Senin, 17 April 2017


TAMONG “menikmati sebuah proses” (Part 2)
Dengan memutuskan berangkat ke Tamong dengan tim laiinya bukan brarti tanpa persiapan, ada beberapa hal penting harus kami persiapkan sebelum berangkat ibarat orang yang akan berangkat berperang perlu isi amunisi dan mengatur strategi. Karena program mission trip ini adalah program Perkantas Jatim (Jawa Timur) maka semua persiapan dilakukan di Surabaya. Saat ini saya tinggal di kota Yogyakarta, it means aku harus keluar kota setiap kali akan persiapan. Susah menjadi tradisi pertemuan tim yaitu sebulan sekali. Selain membahas hal teknis kami juga ber-PA untuk menegguhkan motivasi dan menguatkan pemahaman akan misi.
Selama kurang lebih tiga sampai empat bulan persiapan sebelum berangkat ke Tamong. Karena saya masih bekerja sampai hari jumat maka biasanya saya akan berangakat ke Surabaya di hari sabtu, pernah sekali di hari jumat, pertemuan kami di hari minggu pukul 17.00 – selesai biasanyas selesai sekitar pukul 20.00 an, karena keesokan seninnya saya bekerja maka minggu malam itu saya harus kembali ke Yogyakarta dengan menggunakan bis. Sebenarnya saya lebih suka naik kereta api tapi apalahdaya jadwal kereta api paling lama adalah pukul 19.00. Disini saya sama sekali tidak ingin mencritakn kelelahan ataupun rasa mengeluh yang saya alami bahakan tidak ada niat menyombongkan diri jika diriku melakukan sejauh ini. Karena bagi saya ketika kita sudah mengambil suatu keputusan pasti ada resiko yang harus dihadapi.
Sedikit melenceng dengan perbincangan dua paragraph diatas, dalam perjalanan misi kali ini kami dibagi menjadi tiga kelompok seperti tim-tim sebelumnya yaitu tim visitasi, tim remaja, dan tim anak. Diriku masuk dalam tim anak. Di dalam tim anak kami ada lima orang, empat diantaranya belum berpengalaman sama seklai dan satu daintaranya sudah sangat berpengalaman dan expert hanya saja saat itu yang salah seorang ini sedikit sibuk. Empat yang belum berpengalaman itu semuanya wanita-wanita, mengapa aku menyinggung soal wanita disini?? Nanti akan kuceritakan mungkin di part-4. Ada yang menarik dari tim anak ini, fakta menunjukkan bahwa ke-lima dari kami semua berada di kota yang berbeda-beda. Aku di Yogyakarta, Litta di Malang, Dewi di Surabaya, Kak Stefi di Batu dan Bang Bravel di Kediri. Karena lokasi kami yang bisa dikatakan tidak dekat, group di line adalah salah satu solusi intuk saling berkomunikasi, salah satu sisi positif dari kemajuan teknilogi adalah bagian ini. Group ini dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk saling berkomunikasi.
Setelah beberapa kali diskusi di group, akhirnya kami bertemu juga (hanya 3 orang) kami berbicara kesana kemari dalam bahasa Inggrisnya mungkin disebut ngalor ngidul, membuat plan kesana-kemari sampai akhirnya si yang berpengalaman datang dan mebrikan ide yang sangat baik dan menurut kami tepat sasaran. Kami mengambil tema tengang inspirasi, intinya si memotivasi anak-anak untuk berani bercita-cita dan berharap bagian ini menjawab kebutuhan anak-anak disana. Seiring dengan berjalannya waktu program tim anak pun sudah selesai dan fix di minggu kedua sebelum keberangkatan kalau tidak salah. Gambaran besar planning tim anak adalah dengan memberikan video-video motivasi terlebih dahulu sebelum akan masuk ke program-program inti seperti belajar firman Tuhan dllnya. Ada yang menarik dari bagian ini, nanti aku akan ceritakan di PART-3. Hemmm… sepertinya banyak utang cerita ini.
Ya begitulah sekilas tentang persiapan yang kami lakukan sebelum kebrangkatan ke Tamong. Ada beberapa persiapan lain yang kami lakukan seperti doa puasa setiap hari selasa, menge-list semua kebutuhan yang akan dibaw kesana, bagaimana cara packing yang bener-bener kecil (tidak menyusahkan), bahkan untuk bagian barang-barang yang akan dibawa kami di ajtah membawa berapa pakaian yang harus dibawa bahkan untuk pakaian dalam pun kami dijatah. Oh ya tidak ada sejarahnya mission trip ke Taming ini membawa koper jadi semuanya ahrus dimasukkan dalam ransel. Tiga tas carrier dipenuhi oleh barang-barang umum sperti sleeping bed, baju di tamong (packing superrrr kecil), dus-dus yang penuh dengan hadiah souvenir yang akan dibagikan, buku-buku dan peralatan-peralatan lain yang digunakan untuk keperluan tim. Kurang lebih persiapannya seperti itu, mungkin disini terlihat sederhana sekali tapi percayalah sewaktu mempersiapkan semua ini memang sederhana hehehehe sedikit ribetlah tapi tidak sampai membuat badan gendut ini menjadi kurus hahaha.

Yang saya ceritakn disini adalah persiapan anak, untuk persiapan teman-teman tim visitasi dan tim remaja saya kurang tahu,yang jelas dalam persiapan merekapun mereka sangat berusaha agar persiapan-persiapan itu dirancang semaksimal mungkin. Cukup sekian dulu ya cerita untuk proses nya ya, untuk cerita keberangkatan dari Surabaya – Pontianak – Serukam – Tamong akan ku ceritakan di Part-3 nanti, banyak hal-hal mengejutkan yang kurasakan di part-3 ini.



TAMONG “Awal Dari Sebuah Kisah” (Part 1)


Bulan agustus 2016, aku mengutarakan sebuah pergumulanku kepada seorang kakak pembimbing rohani. Saat itu aku merasa aku bahwa hatiku terbeban dengan “orang-orang terabaikan”. Perasaan ini sebenarnya sudah ada sekitar 3 tahun sebelumnya, dan semakin di perkuat di tahun 2014 ketika aku ikut bergabung dengan program mengajar les gratis “kelas ceria” di Perkantas Surabaya. Sepertinya aku sudah pernah menulis bagian tentang “kelas ceria” di blog ini. Waktu itu aku masih kuliah, ketika mengajar les gratis ini. Karena merasa bahwa kerinduan untuk “keterbebanan” ini semakin berat kuputuskan untuk mendaftar di program Indonesia Mengajar waktu itu. Sempat kuutarakan kerinduanku kepada  orangtua, tapi mereka kurang setuju jika aku mendaftar Indonesia Mengajar, tapi tetap saja aku mendaftar, kupikir aku sudah dewasa untuk memutuskan kehidupanku saat itu dan plan hidupku hanyalah bentuk pembritahuan saja kepada kedua orangtuaku, pikirku saat itu. Dua kali aku mendaftar Indonesia mengajar (sekali ketika aku sudah bekerja) namun kedua-duanya berakhir di tahap Direct Assament, sempat aku berpikir apa yang kurang dariku, karena kerinduanku untuk terjun kepedalaman waktun itu sangat tulus, itu sebuah pertanyaan yang belakangan baru ku ketahui jawabannya dan mungkin memang itu bukan yang terbaik buatku. Tapi setelah kedua kegagalanku itu aku perasaan untuk berbagi itu tak sirna juga,bahkan di selang-selang pekerjaanku aku mengikuti komunitas-komunitas dan concern pada pendidikan anak-anak, dan aku menjadi bertanya-tanya pada diriku sendiri sebenarnya apa motivasiku? Karena “beban” dalam hati itu semakin berat dan tak dapat kubendung aku mencritaknnya kepada seorang kakak rohani, kakak staff di perkantas.


Setelah mencritakan satu pergumulan itu, seorang kakak ini menyarankanku untuk menguji  motivasiku, dan salah satunya adalah untuk mengikuti mission trip ke Tamong. Sebenarnya aku sudah tau akan mission trip ini, bahkan bisa dikatakan satu pokok doa yang menjadi komitmenku sekitar 2 tahun lalu terjawab, yaitu ikut bergabung dengan mission trip ke Tamong. Tamong adalah salah satu desa terpencil yang aku tahu gamabrannya saat itu, berada di daerah Kalimantan Barat berbatasan dengan Malaysia. Desa ini adalah salah satu desa misi Perkantas Jawa Timur. Desa dengan okultisme tinggi, tingkat pendidikan rendah dan akses transportasi yang sulit, kurang lebih itulah yang kutahu dari cerita teman-teman di perkantas, doa misi setiap hari sabtu saat aku masih di kota Surabaya, dan di saat acara natl/paskah alumni perkantas Jatim. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke desa Tamong ini, seminggu setelah pertemuanku dengan seorang kakak rohani itu, kurasa ketika itu aku lupa bahwa posisiku adalah seorang karyawan sebuah perusahaan yang baru bekerja lima bulan. It means, kalo gue dikasih cuti izin DUA MINGGU, syukur puji Tujan banget walaupun kelihatan mustahil banget atau RESIGN. Pilihannya hanya itu. Sebenarnya aku sudah siap resign karena “keterbebanan” itu aku merasa bahwa yang aku kerjakan saat itu bukanlah passionku.