Senin, 01 Februari 2016

WISATA TANAH KARO SIMALEM (KARO LAND)
MUSEUM JAMIN GINTING


pernahkah kamu mendengar tanah karo simalem?
emmm mungkin tanah karo?
atau kab.karo?
belum pernah ya....
jika aku mengatakan Brastagi? Iya... markisah brastagi atau jeruk brastagi
film 3 nafas likas? itu loh yang pemeran utamnaya Vino G. Bastian
pernahkah kau mendengarnya?
BELUM JUGA?!!
okeee bagaimana dengan gunung Sinabung??
pasti kau pernah mendengarnya kan?!!
ia benar gunung yang beberapa tahun belakangan ini sering masuk tv, karena erupsinya yang tak berhenti-berhenti. Erupsi gunung sinabung yang menjadi kabar duka bagi "kalak karo". Sungguh menyedihkan jika aku mengingatnya.
kali ini aku tidak membahas tentang erupsi ataupun dampak dari sinabung tapi beberapa objek wisata yang bisa kamu kunjungi bila datang ke tempat kelahiranku ini. 

Oke kita mulai dengan museum Djamin Ginting. Kalau kamu orang Sumatra Utara kemungkinan besar kamu pasti tahu jalan Djamin Ginting, nama jalan terpanjang mungkin se Sumatra Utara, karena Jln.Djamin Ginting ini mulai dari kabanjahe sampai ke medan simpang pos sepertinya.
Alm. Djamin Ginting ini adalah salah satu Letnan Jendral. Dari marganya sudah sangat menjelaskan bahwa beliau adalah orang karo, kutanya (kampung halaman) adalah Desa Suka. Aku pernah tinggal di tempat ini karena orangtuaku ditugaskan di desa ini. Sekitar sebulan yang lalu aku pulang ke Kabanjahe, rumahku. Kesempatan pulang ini juga kupakai untuk mengunjungi beberapa objek wisata yang sudah lama tak kudatangi. MUSEUM JAMIN GINTING adalah tempat kedua yang kudatangi. Nanti aku akan mencritakan tempat pertamanya. Sekarang siapkan mata dan pikiranmu karna aku akan membawamu terbang ke tanah karo.

Perjalanan aku mulai dari Sumbul (rumah orangtuaku sekarang), aku berangkat bersama dengan adikku. Dari sumbul kami naik angkot ke rumah makan rina
(terminal angkutan ke Ds.Suka). sekitar 10 menit menunggu di rumah makan rina teman-teman adikku akhirnya datang juga, aku berangkat kesana bersama adikku dan teman-temannya. Kami naik angkutan tujuan Ds.Suka dari rumah makan rina kami melewati laudah, simpang bunuraya, simpang mulawari, tigapanah, tiga lembu dan tibalah kami di museum Djamin Ginting. Oh ya biaya transportasi dari kabanjahe ke museum Rp.5000,- dan tiket masuk ke museum ini juga nggk mahal kok Rp.5000,-
 
LETJEN DJAMIN GINTING MUSEUM
Setelah membayar tiket masuk kami langsung masuk ke dalam museum dan mengisi buku tamu. After that kami langsung naik ke lantai 2, museum ini ada 2 lantai. Secara keseluruhan peninggalan-peninggalan yang ada di lantai 2 ini adalah barang peninggalan Alm. Letjen Djamin Ginting. Ketika menginjakkan kaki kami di lantai 2 kami disambut oleh rak buku yang penuh dengan buku-buku Djamin Ginting dan beberapa buku khas karo juga. Aku pun berkeliling untuk melihat-lihat barang apa saja dan cerita apa saja yang ada di tempat itu. Ini beberapa foto yang sempat kami abadikan di lantai 2.
KARAKTER DARI SEORANG PEMIMPIN
PEACE

hard work, humble, and pray are the key
seriusss bgt si adek
salah satu sudut di lantai 2

Sebenarnya masih banyak banget si hal-hal menarik di lantai 2 ini tapi tak sempat diabadikan karna keasikan membaca. Assssiiiikkkkkkkkk ._______.
Setelah mengasyikkan diri di lantai 2 kami turun ke bawah, kalau di bawah isinya sih lebih ke arah benda-benda bersejarah karo. Penasaran apa saja itu. lets check it out!!

Alat Tenun (Uis Gara)
Uis gara salah satu “ulos” karo. Uis gara ini masih banyak jenisnya misalnya beka buluh (dikenakan oleh pria), uis nipes (dikenakan oleh wanita), ragi barat dll, adalagi namanya uis kelam-kelam, uis mbiring (biasanya untuk upacara orang meninggal) dan masih ada jenis-jenis lain.
nenun uis gara

PAKAIAN ADAT KARO (PERNIKAHAN)

ALat Musik Karo
Nah kalo alat-alat musik karo ini sebagian masih sering digunakan pada acara-acara adat karo terutama pada pesta perjabun (perknikahan), simate-mate (upaca orang mati), kerja tahun (pesta tahunan yang diadakan setelah panen) dan acara-acara lain.  Akan kuperkenalkan nama alat-alat ini yang aku tahu, ada keteng-keteng, penganak, surdam, gong, kulcapi dan yang lain aku lupa namanya. Sepertinya aku masih harus banyak belajar untuk mengenal budaya sendiri dan kini ku sadari aku adalah salah satu anak yang sudah tergerus oleh pergerakan zaman yang begitu cepat.



KAMPIL
Sini dekatkanlah telingamu biar aku bisikkan kalau wanita karo itu suka sekali makan sirih terutama yang sudah menikah bahkan ada beberapa anak-anak pun sangat menikmati daun hijau yang disebut belo ini. Ssstttt…. Jangan bilang-bilang ya. Kampil adalah ingan belo (tempat sirih). Semua orang yang man belo pasti memiliki kampil. Apa aja si yang disimpan dalam kampil ini? Of course belo (sirih), gambir, kapur sirih, sontil (tembakau), terkadang ada pinang dan kalau misalnya yang sudah tua punya tutu-tutu (sejenis alat kecil menumbuk sirih).
tempat sirih

INGAN ERDAKAN (DAPUR)
Kemari mendekat lagi lah akan kuceritakan sebuah rahasia tentang orang karo. Pada zaman dahulu kala orang karo tinggal di rumah adat yang bernama “siwaluh jabu” waluh adalah delapan. Kenapa si waluh jabu, karena dalam rumah adat ini terdapat 8 ruang yang ditempati oleh 8 keluarga. ada yang unik dari rumah adat ini yaitu dapur mereka saling berhadapan, sayang sekali kemarin aku tidak sempat main ke rumah adat jadi tidak bisa menunjukkan fotonya. Berbicara tentang dapur ada keunikan dari orang karo. Apakah itu?? ada yang tau?? Ya… orang karo memiliki yang namanya para. Akan kuberi gambaran tentang dapur ini, seperti masyarakat zaman dahulu pada umumnya orang karo juga masak dengan kayu bakar, nah diatas dapur kayu bakar ini dibuatlah para (tempat penyimpanan makanan) bentuknya seperti pada foto dibawah. Jadi semua makanan disimpan di atas para. Oh ya salah satu makanan favorit orang karo adalah tape dan kabarnya tape akan lebih manis bila di fermentasi diatas para.

RUMAH ADAT KARO
Rumah adat karo adalah sebuah karya arsitektur yang begitu menakjubkan menurutku. Siapakah gerangan perencana bangunan ini, atau siapakah kontraktor dibalik bangunan ini? Oh sepertinya tidak ada yang namanya kontraktor, konsultan pengawas atau konsultan perencana yang ada hanyalah kerjasama dan otak yang begitu brililiant pada zaman itu. tahukah kamu tidak ada satu pakupun yang tertancap di rumah adat ini semunaya hanya hasil kaitan sana-sini. Sungguh menakjubbkan. Kalau kamu mampir ke daerah kelahiranku ini berkujunglah ke Desa Dokan atau Desa Lingga disana masih terdapat rumah adat beserta dengan penghuninya.
miniatur rumah adat
RAGA DAYANG-DAYANG
Emmmm seperti yang aku bilang sebelumnya aku masih harus banyak belajar tentang budaya karo karena aku adalah korban zaman yang membawaku hanyut jauh dari budaya. Raga dayang-dayang aku tidak tahu persis benda ini untuk apa. Yang kuingat dari benda ini adalah tempat persembahan (kolekte) jika hari natal tiba. Dan di beberapa upacara adat aku juga melihat benda ini digunakan. Suatu hari nanti mungkin akan ku katakana benda ini untuk apa bila aku sudah menemukannya.


JAMBE
Jambe mungkin kamu pernah melihatnya karena sebenarnya buah ini tidak hanya ada di tanah karo. Buah ini banyak dijumpai di tempat lain mungkin dengan bermacam-macam nama tapi pernahkah kamu meilhat labu seberat ini 51 kg? amazing!!


Masih banyak benda-benda lain di lantai 1 ini yang mungkin hanya orang karo yang tahu itu apa. Berkunjunglah ke museum Djamin Ginting bila kau ke tanah karo simalem. Museum adalah dimana sejarah dicatat selain memberikan pengetahuan museum juga akan membuatmu memahami keadaan zaman dulu mengajarkan kesederhanaan menurut saya.
Setelah melihat-lihat di lantai 1 kami keluar, masih di lokasi yang sama kami berhenti sejenak di kantin Djamin ginting. Oh ya jika mau membeli oleh-oleh juga bisa di tempat ini. Hari sudah semakin sore dan kami pun memutuskan untuk pulang ke Kabanjahe. Sesampainya di Kabanjahe kami ke pajak “pasar” dan makan kwetiau goreng disana. aku suka sekali kwetiau goreng kabanjahe sangat berbeda dengan kwetiau di Jawa. aku tak peduli siapa yang menjual dan dimana tempat dijualnya jika itu adalah kwetiau aku pasti suka. Biar bagaimanapun terimakasih Bapak Letjen Djamin Ginting karna menjadi bagian dari kemerdekaan Indonesia.

MEJUAH-JUAH MAN BANTA KRINA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar