WISATA TANAH KARO SIMALEM (KARO LAND)
MUSEUM JAMIN GINTING
pernahkah kamu mendengar tanah karo
simalem?
emmm mungkin tanah karo?
atau kab.karo?
belum pernah ya....
jika aku mengatakan Brastagi? Iya...
markisah brastagi atau jeruk brastagi
film 3 nafas likas? itu loh yang pemeran
utamnaya Vino G. Bastian
pernahkah kau mendengarnya?
BELUM JUGA?!!
okeee bagaimana dengan gunung Sinabung??
pasti kau pernah mendengarnya kan?!!
ia benar gunung yang beberapa tahun
belakangan ini sering masuk tv, karena erupsinya yang tak berhenti-berhenti.
Erupsi gunung sinabung yang menjadi kabar duka bagi "kalak karo".
Sungguh menyedihkan jika aku mengingatnya.
kali ini aku tidak membahas tentang erupsi
ataupun dampak dari sinabung tapi beberapa objek wisata yang bisa kamu kunjungi
bila datang ke tempat kelahiranku ini.
Oke kita mulai dengan museum Djamin
Ginting. Kalau kamu orang Sumatra Utara kemungkinan besar kamu pasti tahu jalan
Djamin Ginting, nama jalan terpanjang mungkin se Sumatra Utara, karena
Jln.Djamin Ginting ini mulai dari kabanjahe sampai ke medan simpang pos
sepertinya.
Alm. Djamin Ginting ini adalah salah satu
Letnan Jendral. Dari marganya sudah sangat menjelaskan
bahwa beliau adalah orang karo, kutanya (kampung halaman) adalah Desa Suka. Aku
pernah tinggal di tempat ini karena orangtuaku ditugaskan di desa ini. Sekitar
sebulan yang lalu aku pulang ke Kabanjahe, rumahku. Kesempatan pulang ini juga
kupakai untuk mengunjungi beberapa objek wisata yang sudah lama tak kudatangi.
MUSEUM JAMIN GINTING adalah tempat kedua yang kudatangi. Nanti aku akan
mencritakan tempat pertamanya. Sekarang siapkan mata dan pikiranmu karna aku
akan membawamu terbang ke tanah karo.
Perjalanan aku mulai
dari Sumbul (rumah orangtuaku sekarang), aku berangkat bersama dengan adikku.
Dari sumbul kami naik angkot ke rumah makan rina
(terminal angkutan ke
Ds.Suka). sekitar 10 menit menunggu di rumah makan rina teman-teman adikku
akhirnya datang juga, aku berangkat kesana bersama adikku dan teman-temannya.
Kami naik angkutan tujuan Ds.Suka dari rumah makan rina kami melewati laudah,
simpang bunuraya, simpang mulawari, tigapanah, tiga lembu dan tibalah kami di
museum Djamin Ginting. Oh ya biaya transportasi dari kabanjahe ke museum Rp.5000,-
dan tiket masuk ke museum ini juga nggk mahal kok Rp.5000,-
Setelah membayar tiket masuk kami
langsung masuk ke dalam museum dan mengisi buku tamu. After that kami langsung
naik ke lantai 2, museum ini ada 2 lantai. Secara keseluruhan
peninggalan-peninggalan yang ada di lantai 2 ini adalah barang peninggalan
Alm. Letjen Djamin Ginting. Ketika menginjakkan kaki kami di lantai 2 kami
disambut oleh rak buku yang penuh dengan buku-buku Djamin Ginting dan beberapa buku khas karo juga. Aku pun berkeliling untuk melihat-lihat barang apa
saja dan cerita apa saja yang ada di tempat itu. Ini beberapa foto yang sempat
kami abadikan di lantai 2.
| KARAKTER DARI SEORANG PEMIMPIN |
| PEACE |
| hard work, humble, and pray are the key |
| seriusss bgt si adek |
| salah satu sudut di lantai 2 |
Sebenarnya masih banyak banget si
hal-hal menarik di lantai 2 ini tapi tak sempat diabadikan karna keasikan
membaca. Assssiiiikkkkkkkkk ._______.
Setelah mengasyikkan diri di lantai
2 kami turun ke bawah, kalau di bawah isinya sih lebih ke arah benda-benda
bersejarah karo. Penasaran apa saja itu. lets check it out!!
Alat Tenun (Uis Gara)
Uis gara salah satu “ulos” karo. Uis
gara ini masih banyak jenisnya misalnya beka buluh (dikenakan oleh pria), uis
nipes (dikenakan oleh wanita), ragi barat dll, adalagi namanya uis kelam-kelam,
uis mbiring (biasanya untuk upacara orang meninggal) dan masih ada jenis-jenis
lain.
| nenun uis gara |
| PAKAIAN ADAT KARO (PERNIKAHAN) |
ALat Musik Karo
Nah kalo alat-alat musik karo ini
sebagian masih sering digunakan pada acara-acara adat karo terutama
pada pesta perjabun (perknikahan), simate-mate (upaca orang mati), kerja tahun
(pesta tahunan yang diadakan setelah panen) dan acara-acara lain. Akan kuperkenalkan nama alat-alat ini yang
aku tahu, ada keteng-keteng, penganak, surdam, gong, kulcapi dan yang lain aku lupa namanya.
Sepertinya aku masih harus banyak belajar untuk mengenal budaya sendiri dan
kini ku sadari aku adalah salah satu anak yang sudah tergerus oleh pergerakan
zaman yang begitu cepat.
KAMPIL
Sini dekatkanlah telingamu biar
aku bisikkan kalau wanita karo itu suka sekali makan sirih terutama yang sudah
menikah bahkan ada beberapa anak-anak pun sangat menikmati daun hijau yang
disebut belo ini. Ssstttt…. Jangan bilang-bilang ya. Kampil adalah ingan belo
(tempat sirih). Semua orang yang man belo pasti memiliki kampil. Apa aja si
yang disimpan dalam kampil ini? Of course belo (sirih), gambir, kapur sirih, sontil
(tembakau), terkadang ada pinang dan kalau misalnya yang sudah tua punya tutu-tutu
(sejenis alat kecil menumbuk sirih).
| tempat sirih |
INGAN ERDAKAN (DAPUR)
Kemari mendekat lagi lah akan
kuceritakan sebuah rahasia tentang orang karo. Pada zaman dahulu kala orang
karo tinggal di rumah adat yang bernama “siwaluh jabu” waluh adalah delapan. Kenapa
si waluh jabu, karena dalam rumah adat ini terdapat 8 ruang yang ditempati oleh
8 keluarga. ada yang unik dari rumah adat ini yaitu dapur mereka saling
berhadapan, sayang sekali kemarin aku tidak sempat main ke rumah adat jadi
tidak bisa menunjukkan fotonya. Berbicara tentang dapur ada keunikan dari orang
karo. Apakah itu?? ada yang tau?? Ya… orang karo memiliki yang namanya para. Akan
kuberi gambaran tentang dapur ini, seperti masyarakat zaman dahulu pada umumnya
orang karo juga masak dengan kayu bakar, nah diatas dapur kayu bakar ini
dibuatlah para (tempat penyimpanan makanan) bentuknya seperti pada foto dibawah.
Jadi semua makanan disimpan di atas para. Oh ya salah satu makanan favorit
orang karo adalah tape dan kabarnya tape akan lebih manis bila di fermentasi
diatas para.
RUMAH ADAT KARO
Rumah adat karo adalah sebuah
karya arsitektur yang begitu menakjubkan menurutku. Siapakah gerangan
perencana bangunan ini, atau siapakah kontraktor dibalik bangunan ini? Oh sepertinya
tidak ada yang namanya kontraktor, konsultan pengawas atau konsultan perencana
yang ada hanyalah kerjasama dan otak yang begitu brililiant pada zaman itu.
tahukah kamu tidak ada satu pakupun yang tertancap di rumah adat ini semunaya
hanya hasil kaitan sana-sini. Sungguh menakjubbkan. Kalau kamu mampir ke daerah
kelahiranku ini berkujunglah ke Desa Dokan atau Desa Lingga disana masih
terdapat rumah adat beserta dengan penghuninya.
| miniatur rumah adat |
RAGA DAYANG-DAYANG
Emmmm seperti yang aku bilang
sebelumnya aku masih harus banyak belajar tentang budaya karo karena aku adalah
korban zaman yang membawaku hanyut jauh dari budaya. Raga dayang-dayang aku
tidak tahu persis benda ini untuk apa. Yang kuingat dari benda ini adalah
tempat persembahan (kolekte) jika hari natal tiba. Dan di beberapa upacara adat
aku juga melihat benda ini digunakan. Suatu hari nanti mungkin akan ku katakana
benda ini untuk apa bila aku sudah menemukannya.
JAMBE
Jambe mungkin kamu pernah
melihatnya karena sebenarnya buah ini tidak hanya ada di tanah karo. Buah ini
banyak dijumpai di tempat lain mungkin dengan bermacam-macam nama tapi
pernahkah kamu meilhat labu seberat ini 51 kg? amazing!!
Masih banyak benda-benda lain di
lantai 1 ini yang mungkin hanya orang karo yang tahu itu apa. Berkunjunglah ke
museum Djamin Ginting bila kau ke tanah karo simalem. Museum adalah dimana
sejarah dicatat selain memberikan pengetahuan museum juga akan membuatmu
memahami keadaan zaman dulu mengajarkan kesederhanaan menurut saya.
Setelah melihat-lihat di lantai 1
kami keluar, masih di lokasi yang sama kami berhenti sejenak di kantin Djamin
ginting. Oh ya jika mau membeli oleh-oleh juga bisa di tempat ini. Hari sudah
semakin sore dan kami pun memutuskan untuk pulang ke Kabanjahe. Sesampainya di
Kabanjahe kami ke pajak “pasar” dan makan kwetiau goreng disana. aku suka
sekali kwetiau goreng kabanjahe sangat berbeda dengan kwetiau di Jawa. aku tak
peduli siapa yang menjual dan dimana tempat dijualnya jika itu adalah kwetiau
aku pasti suka. Biar bagaimanapun terimakasih Bapak Letjen Djamin Ginting karna
menjadi bagian dari kemerdekaan Indonesia.
MEJUAH-JUAH MAN BANTA KRINA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar