TAMONG “Awal Dari Sebuah Kisah” (Part 1)
Bulan agustus 2016, aku mengutarakan sebuah pergumulanku kepada
seorang kakak pembimbing rohani. Saat itu aku merasa aku bahwa hatiku terbeban
dengan “orang-orang terabaikan”. Perasaan ini sebenarnya sudah ada sekitar 3
tahun sebelumnya, dan semakin di perkuat di tahun 2014 ketika aku ikut
bergabung dengan program mengajar les gratis “kelas ceria” di Perkantas
Surabaya. Sepertinya aku sudah pernah menulis bagian tentang “kelas ceria” di
blog ini. Waktu itu aku masih kuliah, ketika mengajar les gratis ini. Karena
merasa bahwa kerinduan untuk “keterbebanan” ini semakin berat kuputuskan untuk
mendaftar di program Indonesia Mengajar waktu itu. Sempat kuutarakan
kerinduanku kepada orangtua, tapi mereka
kurang setuju jika aku mendaftar Indonesia Mengajar, tapi tetap saja aku
mendaftar, kupikir aku sudah dewasa untuk memutuskan kehidupanku saat itu dan
plan hidupku hanyalah bentuk pembritahuan saja kepada kedua orangtuaku, pikirku
saat itu. Dua kali aku mendaftar Indonesia mengajar (sekali ketika aku sudah
bekerja) namun kedua-duanya berakhir di tahap Direct Assament, sempat aku
berpikir apa yang kurang dariku, karena kerinduanku untuk terjun kepedalaman
waktun itu sangat tulus, itu sebuah pertanyaan yang belakangan baru ku ketahui
jawabannya dan mungkin memang itu bukan yang terbaik buatku. Tapi setelah kedua
kegagalanku itu aku perasaan untuk berbagi itu tak sirna juga,bahkan di
selang-selang pekerjaanku aku mengikuti komunitas-komunitas dan concern pada
pendidikan anak-anak, dan aku menjadi bertanya-tanya pada diriku sendiri
sebenarnya apa motivasiku? Karena “beban” dalam hati itu semakin berat dan tak
dapat kubendung aku mencritaknnya kepada seorang kakak rohani, kakak staff di
perkantas.
Setelah mencritakan satu pergumulan itu, seorang kakak ini
menyarankanku untuk menguji motivasiku,
dan salah satunya adalah untuk mengikuti mission trip ke Tamong. Sebenarnya aku
sudah tau akan mission trip ini, bahkan bisa dikatakan satu pokok doa yang
menjadi komitmenku sekitar 2 tahun lalu terjawab, yaitu ikut bergabung dengan
mission trip ke Tamong. Tamong adalah salah satu desa terpencil yang aku tahu
gamabrannya saat itu, berada di daerah Kalimantan Barat berbatasan dengan
Malaysia. Desa ini adalah salah satu desa misi Perkantas Jawa Timur. Desa
dengan okultisme tinggi, tingkat pendidikan rendah dan akses transportasi yang
sulit, kurang lebih itulah yang kutahu dari cerita teman-teman di perkantas,
doa misi setiap hari sabtu saat aku masih di kota Surabaya, dan di saat acara
natl/paskah alumni perkantas Jatim. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke
desa Tamong ini, seminggu setelah pertemuanku dengan seorang kakak rohani itu,
kurasa ketika itu aku lupa bahwa posisiku adalah seorang karyawan sebuah
perusahaan yang baru bekerja lima bulan. It means, kalo gue dikasih cuti izin
DUA MINGGU, syukur puji Tujan banget walaupun kelihatan mustahil banget atau
RESIGN. Pilihannya hanya itu. Sebenarnya aku sudah siap resign karena
“keterbebanan” itu aku merasa bahwa yang aku kerjakan saat itu bukanlah
passionku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar