Senin, 17 April 2017

TAMONG “Awal Dari Sebuah Kisah” (Part 1)


Bulan agustus 2016, aku mengutarakan sebuah pergumulanku kepada seorang kakak pembimbing rohani. Saat itu aku merasa aku bahwa hatiku terbeban dengan “orang-orang terabaikan”. Perasaan ini sebenarnya sudah ada sekitar 3 tahun sebelumnya, dan semakin di perkuat di tahun 2014 ketika aku ikut bergabung dengan program mengajar les gratis “kelas ceria” di Perkantas Surabaya. Sepertinya aku sudah pernah menulis bagian tentang “kelas ceria” di blog ini. Waktu itu aku masih kuliah, ketika mengajar les gratis ini. Karena merasa bahwa kerinduan untuk “keterbebanan” ini semakin berat kuputuskan untuk mendaftar di program Indonesia Mengajar waktu itu. Sempat kuutarakan kerinduanku kepada  orangtua, tapi mereka kurang setuju jika aku mendaftar Indonesia Mengajar, tapi tetap saja aku mendaftar, kupikir aku sudah dewasa untuk memutuskan kehidupanku saat itu dan plan hidupku hanyalah bentuk pembritahuan saja kepada kedua orangtuaku, pikirku saat itu. Dua kali aku mendaftar Indonesia mengajar (sekali ketika aku sudah bekerja) namun kedua-duanya berakhir di tahap Direct Assament, sempat aku berpikir apa yang kurang dariku, karena kerinduanku untuk terjun kepedalaman waktun itu sangat tulus, itu sebuah pertanyaan yang belakangan baru ku ketahui jawabannya dan mungkin memang itu bukan yang terbaik buatku. Tapi setelah kedua kegagalanku itu aku perasaan untuk berbagi itu tak sirna juga,bahkan di selang-selang pekerjaanku aku mengikuti komunitas-komunitas dan concern pada pendidikan anak-anak, dan aku menjadi bertanya-tanya pada diriku sendiri sebenarnya apa motivasiku? Karena “beban” dalam hati itu semakin berat dan tak dapat kubendung aku mencritaknnya kepada seorang kakak rohani, kakak staff di perkantas.


Setelah mencritakan satu pergumulan itu, seorang kakak ini menyarankanku untuk menguji  motivasiku, dan salah satunya adalah untuk mengikuti mission trip ke Tamong. Sebenarnya aku sudah tau akan mission trip ini, bahkan bisa dikatakan satu pokok doa yang menjadi komitmenku sekitar 2 tahun lalu terjawab, yaitu ikut bergabung dengan mission trip ke Tamong. Tamong adalah salah satu desa terpencil yang aku tahu gamabrannya saat itu, berada di daerah Kalimantan Barat berbatasan dengan Malaysia. Desa ini adalah salah satu desa misi Perkantas Jawa Timur. Desa dengan okultisme tinggi, tingkat pendidikan rendah dan akses transportasi yang sulit, kurang lebih itulah yang kutahu dari cerita teman-teman di perkantas, doa misi setiap hari sabtu saat aku masih di kota Surabaya, dan di saat acara natl/paskah alumni perkantas Jatim. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke desa Tamong ini, seminggu setelah pertemuanku dengan seorang kakak rohani itu, kurasa ketika itu aku lupa bahwa posisiku adalah seorang karyawan sebuah perusahaan yang baru bekerja lima bulan. It means, kalo gue dikasih cuti izin DUA MINGGU, syukur puji Tujan banget walaupun kelihatan mustahil banget atau RESIGN. Pilihannya hanya itu. Sebenarnya aku sudah siap resign karena “keterbebanan” itu aku merasa bahwa yang aku kerjakan saat itu bukanlah passionku. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar