Rabu, 02 November 2016

Kambangan Desa Diatas Awan

Dari Sabang sampai Merauke berjejar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia
Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu
Menjungjung tanah airku, tanah airku Indonesia

Suara anak kelas 5 SD Negri desa Kambangan Kec. Bruno Purwerejo siang itu menggetarkan hatiku. Lagu ini sangat familiar di telingaku bahkan lagu ini sudah kuhafal sejak aku duduk di kelas 3SD tapi bagaimana mungkin aku baru  merasakan makna sesungguhnya dari lagu ini di umurku yang sudah 23? Kejadian ini merupakan kesan pertamaku saat bertemu dengan adik-adik di kelas 5 SD Negri Kambangan.

Seperti biasanya minggu siang itu kota Yogyakarta begitu panas, ku langkahkan kakiku di salah satu kafe untuk mengikuti tahap interview salah satu komunitas positif yang sedang eksis saat ini. Tak lama menunggu namaku dipanggil untuk interview, kurang lebih 15-20 menit waktu itu. Berselang sekitar 1 minggu menunggu, sungguh mengucap syukur namaku lolos. Aku akan mengikuti salah satu program dari komunitas ini yaitu “teaching and trevelling”. Bagiku pada saat itu bahkan sampai saat ini menjadi volunteer dalam dunia pendidikan adalah seperti candu, apinya belum padam.

Di suatu hari jumat malam kami meninggalkan kota yang dikenal dengan sebutan kota pelajar itu menuju suatu tempat yang aku sendiri belum tahu keberadaanya. Desa Kambangan Kec.Bruno Purwerejo mereka mengatakannya, bahkan ada yang berpendapat desa ini lebih mendekati daerah Wonosobo. Entahlah baik Purwerejo maupun Wonosobo bukan sesuatu yang asing lagi di telingaku tapi yang jelas aku belum pernah ke kedua tempat itu.

Perjalanan kami tempuh sekitar empat belas jam, meleset sembilan jam dari dugaan, hal ini dikarenakan salah satu mobil rombongan kami mengalami masalah sehingga kami harus menginap di perjalanan. Jam lima pagi waktu subuh kami melanjutkan perjalan menuju desa Kambangan, tak kusangka ternyata perjalan sangat jauh dan penuh dengan tantangan. Sedikit cerita mobil yang saya naiki saat itu dua kali mengalami kecelakaan. Sekedar saran jika suatu saat kamu ke desa Kambangan dari Purwerejo gunakanlah mobil off road itu akan membuat perjalanan lebih aman. Jalan menuju Kambangan bukan hanya berkelok tapi sangat menanjak, seolah-olah mobil-mobil itu kami paksa untuk mendaki gunung, tebing dan jurang adalah pemandangan yang memanjakan mata selama perjalanan. Jalanan beraspal tidak akan kau temui di tempat ini kawan, jalan berbatulah yang akan menemani perjalanmu ke desa itu.

Masih teringat jelas oleh memoriku pagi itu aku dan beberapa rombongan sampai di balai desa yang akan menjadi base camp kami selama dua hari. Kami segera berganti pakaian tanpa mandi karena kami sudah terlambat. Kami bejalan dari balai desa menuju Sekolah Dasar Negri Kambangan, ohhh… ternyata dari balai desa menuju sekolah itu lumayan jauh juga. Sepertinya malam itu telah turun hujan karena di beberapa titik jalan ada genangan air, salah mengambil langkah akan membuat kakimu bersepatukan lumpur, hal itu menjadi lucu jika kuingat saat ini. Sekitar lima belas sampai dua puluh menit aku melihat bentuk bangunan yang sangat familiar, “itu adalah sekolahnya dalam hatiku”. Belum juga kami melangkahkan kaki di sekolah itu, anak-anak itu sudah keluar dan meneriakkan sesuatu sehingga semua yang masih di dalam kelas berhambur keluar. Mereka sangat girang melihat kami bahkan ada yang sampai loncat-loncat. Aku penasaran apa yang mereka pikirkan ketika pertama kali melihat kami. Apakah kami sosok hero yang mereka tunggu, ataukah mereka menganggap kami artis? Aku rasa bukan itu. Tapi yang jelas mereka menggetarkan hatiku, mengaduk-aduk emosiku, hampir membuat air mataku menetes seketika itu juga. Si anak-anak polos dari SDN Kambangan membuatku meleleh di pandangan pertama.

Bangunan sekolah sangat sederhana, ada enam kelas mulai dari kelas satu sampai kelas enam, satu ruang guru, dua keran beserta dengan “wastafel” nya yaitu di depan ruangan kelas enam dan kelas emapat, lapangan yang cukup untuk menampung upacara dan satu tiang tempat berkibarnya sang Merah Putih. Suasana itu cukup membuat anak-anak SDN Kambangan merasa bahagia berada di sekolah. Sangat sederhana, kesederhaan yang sempurna.

Kami memulai kebahagiaan hari itu dengan games di lapangan sederhana sekolah, kami membentuk lingkaran agar dapat melihat satu dengan yang lainnya, kami bernyanyi, kami menari, kami tertawa kami sangat bersukacita. Begitulah awal perjumpaanku dengan anak-anak polos itu. Sebagian dari mereka cepat sekali mengakrabkan diri, menambahkan sukacitaku. Antusias mereka adalah semangat kami. Setelah bermain games anak-anak masuk di kelas masing-masing dan kakak-kakak volunteer pun ikut masuk sesuai dengan kelasnya. Aku beserta dengan ke-dua temanku kebagian di kelas 5 SD.
Kami membuka pertemuan di kelas lima menyapa mereka dengan penuh semangat dan mereka merespon sapaan itu lebih semangat lagi. Suasana yang sangat hangat. Karena kami belum mengenal mereka maka sebelum masuk dalam topik pelajaran hari itu kami saling memperkenalkan diri terlebih dahulu. Masing-masing dari anak-anak itu memperkenalkan diri mereka dan sesekali di isi dengan godaan dari anak-anak lain sekali lagi ini adalah suasana yang sangat hangat.

Topik yang kami angkat hari itu adalah “Keanekaragaman Indonesia”. Anak- anak, kami bagi menjadi lima kelompok. Kumulai kelas itu dengan menggambar lima pulau besar Indonesia di papan tulis, Sumatra – Jawa – Kalimantan –Sulawesi – Irianjaya beserta dengan pulau-pulau kecil lainnya. Masing-masing dari kelompok itu kami berikan kertas dan pensil warna untuk menggambar pulau-pulau besar tersebut. Masing-masing kelompok akan menggambar satu pulau. Sebelum menggambar kami menyanyikan lagu “Dari sabang sampai Merauke” ciptaan R Suharjo. Suara anak kelas 5 SD Negri Kambangan Kec. Bruno Purwerejo siang itu menggetarkan hatiku. Lagu ini sangat familiar di telingaku bahkan lagu ini kuhafal sejak aku duduk di kelas 3SD tapi hari itu aku merasakan sesuatu yang berbeda, sepertinya aku memahami isi hati R Suharjo ketika menciptakan lagu ini.

Mereka menggambar dengan sangat antusias bahkan sangat terlihat dengan jelas arti dari gotong royong yang menjadi selogan bangsa ini dalam diri anak-anak itu, tanpa ada command dalam kelompok langsung ada yang menggambar, ada yang menawarkan diri untuk mewarnai, ada yang menempel nama-nama ibu kota provinsi dan ada yang menempel pakaian adat setiap provinsi. Aku berkeliling melihat hasil karya anak bangsa ini sekaligus untuk mengakrabkan diri, saat aku berkeliling, beberapa kali aku bertanya kepada mereka tahukah kalian ibu kota Sumatra Utara? ayo coba siapa yang bisa menunjukkan sabang dalam peta? Ada yang tau ibukota Sulawesi Utara? Dan jawaban-jawaban mereka membuatku sadar bahwa kami belum mengenal bangsa kami dengan utuh. Bahkan ketika kami bertanya ibukota Jawa Tengah pun ada beberapa yang belum mengetahuinya. Desa Kambangan, sebegitu terisolasinya kah dirimu sehingga sulit bagi informasi mendekapmu?? Kami mencoba untuk memperkenalkan keanekaragaman Indonesia kepada mereka, adik-adik kami di Desa Kambangan dan dengan harapan tinggi mereka akan mengenal negri ini melalui goresan tangan mereka. Setelah semua kelompok selesai menggambar, kami menempelkan sebuah karton di belakang kelas mereka dan kami meminta adik-adik itu menempel sendiri hasil karya mereka di karton itu. Lima Pulau besar Indonesia sudah menempel dengan gagah di ruang kelas mereka beserta dengan nama-nama provinsi serta pakaian adat setiap provinsi itu.  Karton yang telah diisi dengan gambar pulau-pulau besar di Indonesia itu menjadi saksi bahwa anak-anak kelas 5 SDN Kambangan memiliki kerinduan untuk mengenal lebih jauh lagi mengenai negrinya INDONESIA.

Setelah sesi mengajar selesai, kami kembali keluar menuju lapangan karena masih ada kegiatan yang akan di lakukan yaitu penyuluhan cara menggosok gigi bersama dengan rekan-rekan volunteer para calon dokter gigi. Aku pribadi sangat senang melihat suasana saat itu, adik-adik diajari bagaimana cara menggosok gigi, apa saja yang menyebabkan sakit gigi dan informasi-informasi lainnya. Aktivitas kami sudah selesai hari itu di sekolah, kami menutupnya dengan membagikan donasi kepada mereka adik-adik baruku.
Siang itu menunjukkan pukul dua siang, awan sudah mulai turun menutupi desa, jika Simeru punya negri diatas awan maka Kambangan pun layak disebut dengan desa diatas awan. Semua daerah desa sudah berkabut siang itu ditambah musim hujan yang sedang berlangsung. Sebelumnya kami telah memberi pengumuman kepada anak-anak di sekolah bahwa siang itu kami akan mengajak mereka bermain di lapangan, tapi apa daya hari itu turun hujan. Namun di luar dugaan hampir semua siswa datang meskipun hujan melanda, sungguh luar biasa. Diantara mereka ada yang sudah mulai basah, ada yang berpayung, ada yang masih mengenakan seragam olahraga, bahkan ada yang masih menggunakan seragam pramuka. Karena hari itu hujan maka kami mengubah planning awal menjadi priksa gigi satu-persatu siswa itu.

Rintik-rintik hujan, remang-remang ruang balai desa menjadi saksi dinginnya siang menjelang sore itu tapi anak-anak SDN Kambangan memilki antusias yang tinggi. SEMANGAT suatu hal yang kupelajari dari mereka, keSEDERHANAnaan terlukis dengan tajam di mata mereka, mereka bukan anak-anak yang pusing dengan games di handphone, sepatu atau pun baju baru mungkin jarang terlintas di pikiran mereka, sungguh mereka anak-anak yang sederhana. Sikap MANDIRI terlihat jelas dari sikapnya, mereka bukannya tidak mau bermanja kepada orangtua tapi keadaan memaksa mereka untuk mandiri, keadaan memaksa mereka untuk bertanggung jawab akan suatu pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada mereka setelah pulang sekolah yaitu membantu orangtua mereka bahkan untuk membantu di ladang.

Malam itu dingin semakin menusuk tulangku, aku dan semua rekan-rekan volunteer duduk melingkar, mengambil posisi senyaman mungkin untuk menceritakan apa saja yang kami dapatkan sepanjang hari itu. Masing-masing dari kami menceritakan berbagai pelajaran hidup yang kami dapatkan hari itu. Ada yang menangis, ada yang mengatakan menjadi volunteer seperti candu buatnya, ada yang bersyukur karena memiliki kesempatan mengajar di depan kelas, ada yang bersukacita karena dapat berbagi. Banyak emosi yang bercampur aduk malam itu tapi satu hal yang ku ketahui dari semua teman-temanku volunteer bahwa masih banyak di negri ini yang peduli, masih banyak anak muda di negri ini yang mencintai Indonesia.

Aku juga baru mengetahui dari sharing salah seorang teman malam itu, bahwa anak-anak yang sekolah ke SDN Kambangan bukan hanya dari desa Kambangan saja tapi juga dari beberapa desa sekitarnya dan beberapa anak itu membutuhkan waktu kurang lebih satu jam menuju sekolah. Aku mencoba membayangkan jika mereka masuk sekolah jam tujuh tiga puluh maka setidak-tidaknya mereka harus berangkat dari rumah jam enam tiga puluh, it means mereka bangun jam enam pagi. Melakukan perjalan selama satu jam melewati ladang-ladang yang sepi bukan suatu hal yang mudah pasti ada rintangan-rintangan yang anak-anak ini hadapi, apalagi di musim hujan, jalan berlumpur akan menjadi sahabat yang mengiring perjalan mereka ke sekolah.

Saat aku menulis tulisan ini kucoba mengingat kembali wajah adik-adiku itu, aku bertanya-tanya dalam hati akan menjadi apa kelak adik-adikku itu? Masih terekam di dalam memori otakku , di suatu hari sabtu di bulan Mei di ruang kelas lima aku menanyakan cita-cita mereka, cita-cita anak-anak itu sungguh amat baik. Mereka punya mimpi, mereka punya cita-cita, mereka punya harapan, tapi kembali ku bertanya dalam hati mungkinkah cita-cita itu akan mereka pejuangkan? Aku takut keadaan akan mengubah cita-cita, aku takut kemiskinan akan menghilangkan semangat mereka untuk bercita-cita, aku takut harapan itu akan sirna.
Desa Kambangan Kec.Bruno, Purwerejo terimakasih untuk pengalaman, untuk pelajaran yang kau berikan. Mungkin kau tidak terlihat tapi kau bermakna, kau tetaplah bagian dari wajah Indonesia ini. Aku punya cita-cita suatu saat semua mimpi yang telah dituliskan oleh siswa-siswi SDN Kambangan akan menjadi kenyataan, aku punya angan-angan semua anak-anak SDN Kambangan akan berjuang untuk cita-citanya sehingga dapat memajukan Desa Kambangan baik dari segi sarana, prasarana dan informasi. Dan aku berharap pemerintah boleh melirik, melihat dan bertidak melakukan sesuatu untuk desa ini.


Kambangan desa diatas awan ; kau bermakna, kau bernilai, kau adalah bagian dari wajah Indoesia.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar