Rabu, 02 November 2016

Kambangan Desa Diatas Awan

Dari Sabang sampai Merauke berjejar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia
Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu
Menjungjung tanah airku, tanah airku Indonesia

Suara anak kelas 5 SD Negri desa Kambangan Kec. Bruno Purwerejo siang itu menggetarkan hatiku. Lagu ini sangat familiar di telingaku bahkan lagu ini sudah kuhafal sejak aku duduk di kelas 3SD tapi bagaimana mungkin aku baru  merasakan makna sesungguhnya dari lagu ini di umurku yang sudah 23? Kejadian ini merupakan kesan pertamaku saat bertemu dengan adik-adik di kelas 5 SD Negri Kambangan.

Seperti biasanya minggu siang itu kota Yogyakarta begitu panas, ku langkahkan kakiku di salah satu kafe untuk mengikuti tahap interview salah satu komunitas positif yang sedang eksis saat ini. Tak lama menunggu namaku dipanggil untuk interview, kurang lebih 15-20 menit waktu itu. Berselang sekitar 1 minggu menunggu, sungguh mengucap syukur namaku lolos. Aku akan mengikuti salah satu program dari komunitas ini yaitu “teaching and trevelling”. Bagiku pada saat itu bahkan sampai saat ini menjadi volunteer dalam dunia pendidikan adalah seperti candu, apinya belum padam.

Di suatu hari jumat malam kami meninggalkan kota yang dikenal dengan sebutan kota pelajar itu menuju suatu tempat yang aku sendiri belum tahu keberadaanya. Desa Kambangan Kec.Bruno Purwerejo mereka mengatakannya, bahkan ada yang berpendapat desa ini lebih mendekati daerah Wonosobo. Entahlah baik Purwerejo maupun Wonosobo bukan sesuatu yang asing lagi di telingaku tapi yang jelas aku belum pernah ke kedua tempat itu.

Perjalanan kami tempuh sekitar empat belas jam, meleset sembilan jam dari dugaan, hal ini dikarenakan salah satu mobil rombongan kami mengalami masalah sehingga kami harus menginap di perjalanan. Jam lima pagi waktu subuh kami melanjutkan perjalan menuju desa Kambangan, tak kusangka ternyata perjalan sangat jauh dan penuh dengan tantangan. Sedikit cerita mobil yang saya naiki saat itu dua kali mengalami kecelakaan. Sekedar saran jika suatu saat kamu ke desa Kambangan dari Purwerejo gunakanlah mobil off road itu akan membuat perjalanan lebih aman. Jalan menuju Kambangan bukan hanya berkelok tapi sangat menanjak, seolah-olah mobil-mobil itu kami paksa untuk mendaki gunung, tebing dan jurang adalah pemandangan yang memanjakan mata selama perjalanan. Jalanan beraspal tidak akan kau temui di tempat ini kawan, jalan berbatulah yang akan menemani perjalanmu ke desa itu.

Masih teringat jelas oleh memoriku pagi itu aku dan beberapa rombongan sampai di balai desa yang akan menjadi base camp kami selama dua hari. Kami segera berganti pakaian tanpa mandi karena kami sudah terlambat. Kami bejalan dari balai desa menuju Sekolah Dasar Negri Kambangan, ohhh… ternyata dari balai desa menuju sekolah itu lumayan jauh juga. Sepertinya malam itu telah turun hujan karena di beberapa titik jalan ada genangan air, salah mengambil langkah akan membuat kakimu bersepatukan lumpur, hal itu menjadi lucu jika kuingat saat ini. Sekitar lima belas sampai dua puluh menit aku melihat bentuk bangunan yang sangat familiar, “itu adalah sekolahnya dalam hatiku”. Belum juga kami melangkahkan kaki di sekolah itu, anak-anak itu sudah keluar dan meneriakkan sesuatu sehingga semua yang masih di dalam kelas berhambur keluar. Mereka sangat girang melihat kami bahkan ada yang sampai loncat-loncat. Aku penasaran apa yang mereka pikirkan ketika pertama kali melihat kami. Apakah kami sosok hero yang mereka tunggu, ataukah mereka menganggap kami artis? Aku rasa bukan itu. Tapi yang jelas mereka menggetarkan hatiku, mengaduk-aduk emosiku, hampir membuat air mataku menetes seketika itu juga. Si anak-anak polos dari SDN Kambangan membuatku meleleh di pandangan pertama.

Bangunan sekolah sangat sederhana, ada enam kelas mulai dari kelas satu sampai kelas enam, satu ruang guru, dua keran beserta dengan “wastafel” nya yaitu di depan ruangan kelas enam dan kelas emapat, lapangan yang cukup untuk menampung upacara dan satu tiang tempat berkibarnya sang Merah Putih. Suasana itu cukup membuat anak-anak SDN Kambangan merasa bahagia berada di sekolah. Sangat sederhana, kesederhaan yang sempurna.

Kami memulai kebahagiaan hari itu dengan games di lapangan sederhana sekolah, kami membentuk lingkaran agar dapat melihat satu dengan yang lainnya, kami bernyanyi, kami menari, kami tertawa kami sangat bersukacita. Begitulah awal perjumpaanku dengan anak-anak polos itu. Sebagian dari mereka cepat sekali mengakrabkan diri, menambahkan sukacitaku. Antusias mereka adalah semangat kami. Setelah bermain games anak-anak masuk di kelas masing-masing dan kakak-kakak volunteer pun ikut masuk sesuai dengan kelasnya. Aku beserta dengan ke-dua temanku kebagian di kelas 5 SD.
Kami membuka pertemuan di kelas lima menyapa mereka dengan penuh semangat dan mereka merespon sapaan itu lebih semangat lagi. Suasana yang sangat hangat. Karena kami belum mengenal mereka maka sebelum masuk dalam topik pelajaran hari itu kami saling memperkenalkan diri terlebih dahulu. Masing-masing dari anak-anak itu memperkenalkan diri mereka dan sesekali di isi dengan godaan dari anak-anak lain sekali lagi ini adalah suasana yang sangat hangat.

Topik yang kami angkat hari itu adalah “Keanekaragaman Indonesia”. Anak- anak, kami bagi menjadi lima kelompok. Kumulai kelas itu dengan menggambar lima pulau besar Indonesia di papan tulis, Sumatra – Jawa – Kalimantan –Sulawesi – Irianjaya beserta dengan pulau-pulau kecil lainnya. Masing-masing dari kelompok itu kami berikan kertas dan pensil warna untuk menggambar pulau-pulau besar tersebut. Masing-masing kelompok akan menggambar satu pulau. Sebelum menggambar kami menyanyikan lagu “Dari sabang sampai Merauke” ciptaan R Suharjo. Suara anak kelas 5 SD Negri Kambangan Kec. Bruno Purwerejo siang itu menggetarkan hatiku. Lagu ini sangat familiar di telingaku bahkan lagu ini kuhafal sejak aku duduk di kelas 3SD tapi hari itu aku merasakan sesuatu yang berbeda, sepertinya aku memahami isi hati R Suharjo ketika menciptakan lagu ini.

Mereka menggambar dengan sangat antusias bahkan sangat terlihat dengan jelas arti dari gotong royong yang menjadi selogan bangsa ini dalam diri anak-anak itu, tanpa ada command dalam kelompok langsung ada yang menggambar, ada yang menawarkan diri untuk mewarnai, ada yang menempel nama-nama ibu kota provinsi dan ada yang menempel pakaian adat setiap provinsi. Aku berkeliling melihat hasil karya anak bangsa ini sekaligus untuk mengakrabkan diri, saat aku berkeliling, beberapa kali aku bertanya kepada mereka tahukah kalian ibu kota Sumatra Utara? ayo coba siapa yang bisa menunjukkan sabang dalam peta? Ada yang tau ibukota Sulawesi Utara? Dan jawaban-jawaban mereka membuatku sadar bahwa kami belum mengenal bangsa kami dengan utuh. Bahkan ketika kami bertanya ibukota Jawa Tengah pun ada beberapa yang belum mengetahuinya. Desa Kambangan, sebegitu terisolasinya kah dirimu sehingga sulit bagi informasi mendekapmu?? Kami mencoba untuk memperkenalkan keanekaragaman Indonesia kepada mereka, adik-adik kami di Desa Kambangan dan dengan harapan tinggi mereka akan mengenal negri ini melalui goresan tangan mereka. Setelah semua kelompok selesai menggambar, kami menempelkan sebuah karton di belakang kelas mereka dan kami meminta adik-adik itu menempel sendiri hasil karya mereka di karton itu. Lima Pulau besar Indonesia sudah menempel dengan gagah di ruang kelas mereka beserta dengan nama-nama provinsi serta pakaian adat setiap provinsi itu.  Karton yang telah diisi dengan gambar pulau-pulau besar di Indonesia itu menjadi saksi bahwa anak-anak kelas 5 SDN Kambangan memiliki kerinduan untuk mengenal lebih jauh lagi mengenai negrinya INDONESIA.

Setelah sesi mengajar selesai, kami kembali keluar menuju lapangan karena masih ada kegiatan yang akan di lakukan yaitu penyuluhan cara menggosok gigi bersama dengan rekan-rekan volunteer para calon dokter gigi. Aku pribadi sangat senang melihat suasana saat itu, adik-adik diajari bagaimana cara menggosok gigi, apa saja yang menyebabkan sakit gigi dan informasi-informasi lainnya. Aktivitas kami sudah selesai hari itu di sekolah, kami menutupnya dengan membagikan donasi kepada mereka adik-adik baruku.
Siang itu menunjukkan pukul dua siang, awan sudah mulai turun menutupi desa, jika Simeru punya negri diatas awan maka Kambangan pun layak disebut dengan desa diatas awan. Semua daerah desa sudah berkabut siang itu ditambah musim hujan yang sedang berlangsung. Sebelumnya kami telah memberi pengumuman kepada anak-anak di sekolah bahwa siang itu kami akan mengajak mereka bermain di lapangan, tapi apa daya hari itu turun hujan. Namun di luar dugaan hampir semua siswa datang meskipun hujan melanda, sungguh luar biasa. Diantara mereka ada yang sudah mulai basah, ada yang berpayung, ada yang masih mengenakan seragam olahraga, bahkan ada yang masih menggunakan seragam pramuka. Karena hari itu hujan maka kami mengubah planning awal menjadi priksa gigi satu-persatu siswa itu.

Rintik-rintik hujan, remang-remang ruang balai desa menjadi saksi dinginnya siang menjelang sore itu tapi anak-anak SDN Kambangan memilki antusias yang tinggi. SEMANGAT suatu hal yang kupelajari dari mereka, keSEDERHANAnaan terlukis dengan tajam di mata mereka, mereka bukan anak-anak yang pusing dengan games di handphone, sepatu atau pun baju baru mungkin jarang terlintas di pikiran mereka, sungguh mereka anak-anak yang sederhana. Sikap MANDIRI terlihat jelas dari sikapnya, mereka bukannya tidak mau bermanja kepada orangtua tapi keadaan memaksa mereka untuk mandiri, keadaan memaksa mereka untuk bertanggung jawab akan suatu pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada mereka setelah pulang sekolah yaitu membantu orangtua mereka bahkan untuk membantu di ladang.

Malam itu dingin semakin menusuk tulangku, aku dan semua rekan-rekan volunteer duduk melingkar, mengambil posisi senyaman mungkin untuk menceritakan apa saja yang kami dapatkan sepanjang hari itu. Masing-masing dari kami menceritakan berbagai pelajaran hidup yang kami dapatkan hari itu. Ada yang menangis, ada yang mengatakan menjadi volunteer seperti candu buatnya, ada yang bersyukur karena memiliki kesempatan mengajar di depan kelas, ada yang bersukacita karena dapat berbagi. Banyak emosi yang bercampur aduk malam itu tapi satu hal yang ku ketahui dari semua teman-temanku volunteer bahwa masih banyak di negri ini yang peduli, masih banyak anak muda di negri ini yang mencintai Indonesia.

Aku juga baru mengetahui dari sharing salah seorang teman malam itu, bahwa anak-anak yang sekolah ke SDN Kambangan bukan hanya dari desa Kambangan saja tapi juga dari beberapa desa sekitarnya dan beberapa anak itu membutuhkan waktu kurang lebih satu jam menuju sekolah. Aku mencoba membayangkan jika mereka masuk sekolah jam tujuh tiga puluh maka setidak-tidaknya mereka harus berangkat dari rumah jam enam tiga puluh, it means mereka bangun jam enam pagi. Melakukan perjalan selama satu jam melewati ladang-ladang yang sepi bukan suatu hal yang mudah pasti ada rintangan-rintangan yang anak-anak ini hadapi, apalagi di musim hujan, jalan berlumpur akan menjadi sahabat yang mengiring perjalan mereka ke sekolah.

Saat aku menulis tulisan ini kucoba mengingat kembali wajah adik-adiku itu, aku bertanya-tanya dalam hati akan menjadi apa kelak adik-adikku itu? Masih terekam di dalam memori otakku , di suatu hari sabtu di bulan Mei di ruang kelas lima aku menanyakan cita-cita mereka, cita-cita anak-anak itu sungguh amat baik. Mereka punya mimpi, mereka punya cita-cita, mereka punya harapan, tapi kembali ku bertanya dalam hati mungkinkah cita-cita itu akan mereka pejuangkan? Aku takut keadaan akan mengubah cita-cita, aku takut kemiskinan akan menghilangkan semangat mereka untuk bercita-cita, aku takut harapan itu akan sirna.
Desa Kambangan Kec.Bruno, Purwerejo terimakasih untuk pengalaman, untuk pelajaran yang kau berikan. Mungkin kau tidak terlihat tapi kau bermakna, kau tetaplah bagian dari wajah Indonesia ini. Aku punya cita-cita suatu saat semua mimpi yang telah dituliskan oleh siswa-siswi SDN Kambangan akan menjadi kenyataan, aku punya angan-angan semua anak-anak SDN Kambangan akan berjuang untuk cita-citanya sehingga dapat memajukan Desa Kambangan baik dari segi sarana, prasarana dan informasi. Dan aku berharap pemerintah boleh melirik, melihat dan bertidak melakukan sesuatu untuk desa ini.


Kambangan desa diatas awan ; kau bermakna, kau bernilai, kau adalah bagian dari wajah Indoesia.











Sabtu, 20 Februari 2016

PANTAI SIUNG GUNUNG KIDUL YOGYAKARTA


Sob cerita ke pantai Siung kali ini benar-benar berbeda, jadi ceritanya pada akhir januari kemarin seorang teman dari surabaya menghubungiku dan bilang kalau dia mau main ke jogja. awalanya si katanya mau main ke pantai Gelagah. aku bilang yaudah main aja kesini, ketepatan pertengahan bulan januari kemarin aku memang kembali ke jogja mau tes PLN gitu. PLN ah... lupakan belum rezeki :)

nah akhirnya mereka datang juga tgl 4 februari jam set.3 tiba di stasiun lempuyangan jogjakardaahh dari stasiun gubeng Surabaya. Okey skip semua cerita di tanggal 4 karena kami hanya nongkrong ke roemi dan makan di nasi goreng papilon, itu loh nasi goreng depan progo yang ruameee banget itu.

berhubung aku tak bisa bawa motor aku mengajak sepupuku menemani kami ke pantai. melalui diskusi yang panjang lewat line yang disambung ke bm adikku karena kuotaku abis (nggk penting untuk diceritakan sebenarnya) maka disimpulkan kami akan berangkat ber-6. aku, sepupuku, ke-2 temanku dan dua lagi adalah teman sepupuku. mengapa sepupuku ini mengajak dua temannya?? sudahlah jelas karena dia tidak nyaman laki-laki sendiri. malam itu tanggal 4 feb kami membuat kesepakatan kalau berangkatnya besok paginya jam 10.00 yang berujung di 11.30 deabakkk!!! dan jam segitu kemarin sudah mendung. memang Jogja lagi musim hujan waktu itu, bahkan sampai sekarang. tapi karena sudah direncakan kita trobos aja deh itu mendung walaupun pada akhirnya kami harus memakai jas hujan mulai dari wonosari sampai ke pantai. 

sebelum aku cerita lebih jauh, biar aku kenalin dulu nih ke enam personil penantang hujan demi ke pantai ini. okey yang pertama adalah Yuliasti dipanggil Asti temanku yang menghubungiku kalau mau ke Jogja. ASTI pertama kali naik motor 2 jam lebih tanpa berhenti (kecuali lampu merah dan beli jas hujan) ditambah jalannya adalah jalan luar kota melewati kota, masuk desa, kontur jalan yang naik turun melewati hutan-hutan jalanan sepi. sebenarnya dia sangat takut dan bangga ternyata dia bisa melewati semua. pround of u sister. kalo dibuatin ftv judul asti adalah "ku rela bawa motor demi pantai"
semua demi kamu pantai
yang kedua adalah Yanthi Ginting, seorang mahasiswi kedokteran gigi Unair, pendiam tapi suka jalan-jalan. Bukan pertama kalinya dia ke jogja tapi untuk pertama kalinya dia ke pantai setelah beberapa kali ke jogja. oh ya dia kalo di foto candid gitu bagus loh, seriusss!! kita aja sampe iri gitu hahaha.

anak kedokteran gigi itu emang feminim banget yah
trus yang ke tiga adalah sepupuku, perkenalkan namanya Ipo Oxia Singarimbun, pas kita ke pantai statusnya lagi nunggu wisuda. dan saat aku menulis tulisan ini dia sudah di wisuda 2 hari kemarin. turangku yang satu ini lulusan teknik elektro, humble dan nggk banget kalau udah bercanda. oh ya dia pernah PKL di Surabaya dan beberapa kali gereja di GBKP Surabaya dan yang kuherankan adalah mengapa dia nggk kenal sama asti ataupun yanthi ya dan begitu juga sebaliknya. aneh memang.

aku udah punya ijazah loh!!
Yang ke empat adalah Ari Sembiring, turangku juga ini. Ari temannya Ipo tapi bukan untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya. anak kehutan ini lah penyebab kami berangkat siang, biasa aktivis jadi banyak hal yang harus diselesaikan sebelum berangkat, dia orangnya sangat sanguinis dan pemecah suasana yang membeku "ice breaking" julukan yang cocok buat dia.


Ke lima bernama Harries Surbakti teman sekosan Ari bukan sekamar tapi ya. kalau harris ini aku baru pertama kalinya bertemu. kami sangat beruntung karena dia ikut ke pantai why?? karena dia adalah tukang poto eh fotographer maksdnya :) walaupun waktu itu ujan yang tak reda-reda kita tetap punya foto because of him.
fotographer kami
oke sudah semua kan?? eitss gueh juga perlu kenalan lah ya biar eksis gitu .___. 
kenalin namaku gracea sembiring sudah 4 bulan nganggur, ikut tes sana-sini tapi failed, giliran ada yang manggil ngerasa nggak passion. kalo nggak ngerasa passion kenapa ikut test gracea? mbohh mungkin waktu itu sedang stress. ini slah tolong jangan dicontoh. aku gracea sekarang ini masih mencoba untuk sabar mencari kerja yang sesuai passion agar kata-kata "do what u love" juga bisa kurasakan. sudahlah cukup cerita tentangku nanti aku keterusan cerita mengenai kegalauan-kegalauan hidup ini.

efek jobseeker fotonya pun nggak jelas
tadi sudah kukatakan kalau mulai dari wonosari kami sudah memakai jas hujan bisa kamu bayangkan gimana perjuangan kami menuju pantai Siung yang letakknya paling di ujung itu dengan jalan licin berkelok-kelok (lebay). yes!! perjuangan banget men, itu nggak gampangloh, walaupun aku dibonceng hiiii..... Oh ya kamu tau pantai Siung nggak sih? kalau orang jogja pasti tau si. emmm aku akan kasih gamabran buat kamu yang nggak tahu. pernah dengar pantai Indrayanti? itu loh yang sempat ngehits di instagram-instagram. nah dari pantai itu masih ke bawah lagiiii nanti melewati beberapa pantai lagi dan Siung itulah yang paling di ujung. jadi udah kebayang kan gima perjuangan kami saat hujan turun.

sesampainya di pantai kami ngeteh-ngeteh dulu kecuali ari, dia ngeteh sambil makan dan plus indomie goreng. edannn..!! emang adikku yang satu itu hobby makan. waktu itu masih ujan, emang ujannya nggak reda-reda si. jadi akhirnya kita putuskan untuk ganti baju biar bisa main-main di pantai gitu. dan sesampainya di tepi deburan ombak bahasanya deburan ombaaakkk ujan lagi lumayan deras. tapi ya bodo amat, hujan pun kulalui demi berkejar-kejaran dengan ombak. kedua temanku itu sangat bahagia. rasa lelah nyetir motor pun terasa ilang. lihatlah ekspresi mereka 

bahagianya rek
bukan cuman mereka yang bahagia, kami semua juga bahagia kok kalau ke pantai. ntah si kalau aku secara pribadi emang suka banget sama pantai. kalau udah di pantai tu bawaanya adem aja. karena kami adalah korban pengikisan zaman dan korban anak kekinian foto-foto adalah yang terpenting juga. eiiii... tapi jangan ngejudge kita dulu kita foto-foto setelah capek bermain-main kok.

iniiii kamii kece kan
oh ya ada cerita nggak akan pernah kita lupakan, jadi pas kita lagi mandi seru-seruan dan bermain sama ombak  gitu tiba-tiba ada hal yang semacam aneh itam-itam nggak jelas gitu, setelah dilihat lagi semakin dekat u know whatttt??? itu adalah tikus coy, tikus!!! tikus yang udah mati terbawa oleh ombak, ntalah asal usulnya itu tikus dari mana. liat kejadian itu kan kita langsung kelaur gitu lah ya dari air. nggak mungkin kita bertahan disana dan seolah-olah menganggap tak ada tikus itu. terussss pas kita lagi berdiri di tepi pantai ada duit 5000 rupiah yang terbawa oleh ombak. mungkin maksud kedatangan tikus itu adalah memberi pertanda bahwa kami akan dapat duit. hahaha. 

setelah kejadian tikus dan uang yang menghentikan kami main-main dengan ombak maka mulailah mencari view-view foto kece. 

mungkin ari sedang berimajinasi menjadi ultramen yang kelaur dari lautan
ia ini aku, pengenya si candid ecek-ecek tapi jadinya candid beberan karena si ombak besar. itu bukan sedang bergaya tapi lagi mencoba mempertahankan diri agar tidak tumbang di terjang ombak

mungkin ipo sedang mencoba menjadi worosableng


perasaan tadi aku nulisnya di atas cari view foto-foto kece yak, kenapa yang muncul foto-foto nggak jelas begini. ah sudahlah foto koce itu sudah terlalu banyak, kita cari foto yang seru-seruan aja ya. bukan masalh kece apa tidaknya tapi bahagia beneran apa nggak nya. sok bijak. ada satu foto ciwi-ciwi kici yang lucu banget ni. ekspetasi foto kayak di video klip "but if i let u go" westlife tapi realitanya kayak film india yang setengah jadi.


kamu bersama dengan kawan-kawanmu pernah nggak sih foto kayak gini? beberapa kali jalan sama teman-teman sering banget loh kita foto dengan gaya begini. tapi sampe sekarang aku masih bingung maksud dari foto ini apaan. tapi sekali lagi bukan masalah kece dan anehnya yang benting bahagia titik.

esensi foto beginiaan apa ya?
Masih ada beberapa foto kita lagi nih pas lagi bareng-bareng. Sebenarnya si masih banyak banget ya fotonya sampe kita bingung gaya gimana lagi kalau foto. sombongggg!!! foto-foto ini sebagian kecil dari banyak foto yang kita miliki. pantai siung bangus banget si jadi kita pengen foto terus. penasaran kan?? makanya ke pantai siung. eh malah promosi

new friends like old friends
kita bahagiaaa eee bahagia

we are young
Satu hal yang sangat aku suka dari perjalanan ini adalah tidak krik krik krikk. kenapa aku bilang gitu kamu bayangkan aja aku tidak terlalu dekat dengan ari let say cuman tau aja itu namanya ari dan mungkin dia pun begitu atau malah dia nggak tau namaku malah, harries aku baru pertama ketemu hemmm kalau yang lain udah kenal dekat si. nah misalanya Ipo paling yang dia kenal dekat ya aku, harries dan ari. asti dan yanthi bahkan dia tidak kenal sama sekali sama halnya dengan yanthi dan asti mereka baru kenal ipo, harries dan ari ahri itu juga pas mau berangkat. but can u see the picture we are like old friends and next time we always be friends.

oke inilah akhir cerita perjalanan ke siung kali ini bersama dengan dengan teman baru tapi seperti teman lama. seperti yang aku ceritakan tadi di awal bahwa cuaca sedang hujan pas kita balik ke jogja pun tetap ujan so sepanjang perjalanan dari pantai siung sampai ke jogja kita ditemani hujan. satu cerita penutup pas di bukit bintang motornya harries gembos dan kita nemu tambal ban itu jauh banget dari lokasi boconya si ban harries ini posisi waktu itu sudah jam delapanan lebih MALAM. dan itu semua menjadi cerita yang takkan terlupakan. THANKS GUYS.


dan anak surabaya ini pun bahagia sekali haha


just for your information kalo mau ke pantai pas lagi cerah aja, emang si ceritanya jadi banyak kalu ujan-ujan gitu tapi kalau aku saranin si pas lagi cerah aja biar foto-fotonya juga semakin kece walaupun foto kece bukan patokan bahagia.
so see u in the next destination guys. 
mejuah-juah!!!







Rabu, 10 Februari 2016

OBJEK WISATA TANAH KARO SIMALEM (KARO LAND)
MUSEUM BERASTAGI
 
Mejuah-juah!!

Allright, di tulisan sebelumnya kita sudah main-main ke museum Jamin Ginting di Ds.Suka sekarang yukkkk sama-sama melangkah ke Berastagi, ia Berastagi yang tempatnya dingin banget itu. coba aku tanya kepadamu, jika aku berkata Berastagi apa yang langsung terlintas di pikiranmu?? Gundaling? Dingin? Tugu perjuangan? Pajak buah? Jeruk? Tapi tahukah kamu bahwa di Berastagi ini ada sebuah museum yang terletak di dekat tugu perjuangan. Aku tidak tahu apakah orang-orang tahu tempat ini, karena terus terang aku sebagai orang karopun tidak pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya. Sungguh memalukan!! Pernah terlintas dipikiranku mengapa terkadang kita lebih tertarik untuk menjelajah daerah lain padahal daerah sendiripun begitu bagus.

Untuk menuju Brastagi sangatlah gampang jika kamu berangkat dari kota Medan cukup naik bis tujuan Kabanjahe seperti Sinabung Jaya, Borneo, Sutra nanti katakan saja kamu turun di Tugu Perjuangan Berastagi. Kernetnya pasti ingat kok. Begitu menginjakkan kakimu di tugu perjuangan cukup menyebrang dan sedikit berjalan kaki sudah sampai di museum ini. Atau bila kamu datang dari arah Kabanjahe yah cukup naik angkot tujuan Brastagi, angkot tujan Brastagi sangat lah banyak jika dari Brastagi kemudian turun di tugu perjuangan kamu tak perlu nyebrang. Kalau belum cukup jelas letakknya coba tanyakan kepada orang sekitar saja hehehe



Nah itu dia tampak depan dari museum ini. Sekarang yuk langkahkan kaki ke dalam. Begitu menginjakkan kai ke dalam gedung ini kita akan disambut oleh seorang pengurus museum yang sangat ramah, kita akan disuruh untuk mengisi buku tamu after that udah masuk saja tak ada bayar-membayar tiket. Amazinggg bukan!! Tapi di dekat buku tamu ada sebuah kotak jadi untuk biaya masuk museum ini adalah SUKARELA.


Museum ini terdiri dari 2 lantai, waktu itu kakiku langsung menuju lantai 2. Begitu naik tangga matamu akan dimanjakan dengan foto-foto orang karo pada zaman dahulu beserta dengan keterangan-keterangannya.


Selain foto-foto yang di cetak dalam ukuran sedang di lantai 2 ini juga ada beberapa foto yang dicetak dalam ukuran yang sangat besar. Dan ada beebrapa peralatan peralatan peninggalan sejarah orang karo pada zaman dahulu.


Dari lantai 2 kita turun ke lantai 1, nah di lantai 1 ini ada banyak barang-barang peninggalan sejarah zaman dulu. kita sebut saja lesung. Setau saya pada zaman dahulu (mungkin saat ini juga masih ada) menumbuk padi menjadi beras di lesung, nah lesung ini adalah satu tempat dimana para wanita menutu (numbuk ) padi yang sudah dijemur menjadi beras.
FOTO LESUNG
Nah selain lesung masih ada barang-barang unik lainnya seperti bura (kalung). Nah sampai saat ini orang karo memang suka mengoleksi perhiasan seperti cincin, anting dan kalung. Ternyata kebiasaan ini tidak muncul begitu saja karena dari sejarah kita bisa melihat bahwa orang karo  pada zaman dulupun sudah suka memakai pershiasan.
bura/ kalung orang karo pada zaman dahulu
padung (anting-anting)
Ada satu hal yang menarik perhatian saya yaitu tongkat-tongat ini. Dari jarak yang sangat dekat aku merasa tongkat ini sedikit menakutkan mirip dengan tongkat nyi pelet di serial drama misteri gunung berapi. Ketika membaca keterangan baru ku ketahui ternyata tongkat-tongkat ini dipegang oleh orang-orang penting pada saat itu. ada tongkat untuk wanita dan ada tongkat untuk pria.

Oh ya di museum ini kamu juga bisa melihat kitab aksara karo. Huruf-huruf yang dipakai pada zaman dahulu.

sebelum kecanggihan yang bernama mesin datang ke tanah karo, seluruh masyarakat karo menumbuk padi yang sudah dikeringkan menjadi beras di satu tempat yang bernama lesung. aku pribadi masih pernah melihat lesung ini di desa dokan, salah satu desa di tanah karo yang masih memiliki rumah adat. lesung terdapat di tengah kuta (desa) mungkin tujuannya gar memudahkan warga menumbuk padi.


emmm pernahkah kalian mendengar gundala-gundala?? yah gundala-gundala ini sering dipakai dalam upacara adat karo seperti memanggil hujan atau dalam event-event penting budaya karo. 

nah inilah sedikit cerita dari museum pusaka karo di Berastagi. sebenarnya masih banyak hal-hal unik lainnya dalam museum ini yang sudah pasti akan menambah pengetahuan kita akan seharah masyarakat karo. masih banyak sekali kekurangan dalam tulisan ini tapi kiranya tulisan ini dapat memberi informasi bagi kamu-kamu sekalian yang suka travelling.

be shine :)

mejuah-juah





Senin, 01 Februari 2016

WISATA TANAH KARO SIMALEM (KARO LAND)
MUSEUM JAMIN GINTING


pernahkah kamu mendengar tanah karo simalem?
emmm mungkin tanah karo?
atau kab.karo?
belum pernah ya....
jika aku mengatakan Brastagi? Iya... markisah brastagi atau jeruk brastagi
film 3 nafas likas? itu loh yang pemeran utamnaya Vino G. Bastian
pernahkah kau mendengarnya?
BELUM JUGA?!!
okeee bagaimana dengan gunung Sinabung??
pasti kau pernah mendengarnya kan?!!
ia benar gunung yang beberapa tahun belakangan ini sering masuk tv, karena erupsinya yang tak berhenti-berhenti. Erupsi gunung sinabung yang menjadi kabar duka bagi "kalak karo". Sungguh menyedihkan jika aku mengingatnya.
kali ini aku tidak membahas tentang erupsi ataupun dampak dari sinabung tapi beberapa objek wisata yang bisa kamu kunjungi bila datang ke tempat kelahiranku ini. 

Oke kita mulai dengan museum Djamin Ginting. Kalau kamu orang Sumatra Utara kemungkinan besar kamu pasti tahu jalan Djamin Ginting, nama jalan terpanjang mungkin se Sumatra Utara, karena Jln.Djamin Ginting ini mulai dari kabanjahe sampai ke medan simpang pos sepertinya.
Alm. Djamin Ginting ini adalah salah satu Letnan Jendral. Dari marganya sudah sangat menjelaskan bahwa beliau adalah orang karo, kutanya (kampung halaman) adalah Desa Suka. Aku pernah tinggal di tempat ini karena orangtuaku ditugaskan di desa ini. Sekitar sebulan yang lalu aku pulang ke Kabanjahe, rumahku. Kesempatan pulang ini juga kupakai untuk mengunjungi beberapa objek wisata yang sudah lama tak kudatangi. MUSEUM JAMIN GINTING adalah tempat kedua yang kudatangi. Nanti aku akan mencritakan tempat pertamanya. Sekarang siapkan mata dan pikiranmu karna aku akan membawamu terbang ke tanah karo.

Perjalanan aku mulai dari Sumbul (rumah orangtuaku sekarang), aku berangkat bersama dengan adikku. Dari sumbul kami naik angkot ke rumah makan rina
(terminal angkutan ke Ds.Suka). sekitar 10 menit menunggu di rumah makan rina teman-teman adikku akhirnya datang juga, aku berangkat kesana bersama adikku dan teman-temannya. Kami naik angkutan tujuan Ds.Suka dari rumah makan rina kami melewati laudah, simpang bunuraya, simpang mulawari, tigapanah, tiga lembu dan tibalah kami di museum Djamin Ginting. Oh ya biaya transportasi dari kabanjahe ke museum Rp.5000,- dan tiket masuk ke museum ini juga nggk mahal kok Rp.5000,-
 
LETJEN DJAMIN GINTING MUSEUM
Setelah membayar tiket masuk kami langsung masuk ke dalam museum dan mengisi buku tamu. After that kami langsung naik ke lantai 2, museum ini ada 2 lantai. Secara keseluruhan peninggalan-peninggalan yang ada di lantai 2 ini adalah barang peninggalan Alm. Letjen Djamin Ginting. Ketika menginjakkan kaki kami di lantai 2 kami disambut oleh rak buku yang penuh dengan buku-buku Djamin Ginting dan beberapa buku khas karo juga. Aku pun berkeliling untuk melihat-lihat barang apa saja dan cerita apa saja yang ada di tempat itu. Ini beberapa foto yang sempat kami abadikan di lantai 2.
KARAKTER DARI SEORANG PEMIMPIN
PEACE

hard work, humble, and pray are the key
seriusss bgt si adek
salah satu sudut di lantai 2

Sebenarnya masih banyak banget si hal-hal menarik di lantai 2 ini tapi tak sempat diabadikan karna keasikan membaca. Assssiiiikkkkkkkkk ._______.
Setelah mengasyikkan diri di lantai 2 kami turun ke bawah, kalau di bawah isinya sih lebih ke arah benda-benda bersejarah karo. Penasaran apa saja itu. lets check it out!!

Alat Tenun (Uis Gara)
Uis gara salah satu “ulos” karo. Uis gara ini masih banyak jenisnya misalnya beka buluh (dikenakan oleh pria), uis nipes (dikenakan oleh wanita), ragi barat dll, adalagi namanya uis kelam-kelam, uis mbiring (biasanya untuk upacara orang meninggal) dan masih ada jenis-jenis lain.
nenun uis gara

PAKAIAN ADAT KARO (PERNIKAHAN)

ALat Musik Karo
Nah kalo alat-alat musik karo ini sebagian masih sering digunakan pada acara-acara adat karo terutama pada pesta perjabun (perknikahan), simate-mate (upaca orang mati), kerja tahun (pesta tahunan yang diadakan setelah panen) dan acara-acara lain.  Akan kuperkenalkan nama alat-alat ini yang aku tahu, ada keteng-keteng, penganak, surdam, gong, kulcapi dan yang lain aku lupa namanya. Sepertinya aku masih harus banyak belajar untuk mengenal budaya sendiri dan kini ku sadari aku adalah salah satu anak yang sudah tergerus oleh pergerakan zaman yang begitu cepat.



KAMPIL
Sini dekatkanlah telingamu biar aku bisikkan kalau wanita karo itu suka sekali makan sirih terutama yang sudah menikah bahkan ada beberapa anak-anak pun sangat menikmati daun hijau yang disebut belo ini. Ssstttt…. Jangan bilang-bilang ya. Kampil adalah ingan belo (tempat sirih). Semua orang yang man belo pasti memiliki kampil. Apa aja si yang disimpan dalam kampil ini? Of course belo (sirih), gambir, kapur sirih, sontil (tembakau), terkadang ada pinang dan kalau misalnya yang sudah tua punya tutu-tutu (sejenis alat kecil menumbuk sirih).
tempat sirih

INGAN ERDAKAN (DAPUR)
Kemari mendekat lagi lah akan kuceritakan sebuah rahasia tentang orang karo. Pada zaman dahulu kala orang karo tinggal di rumah adat yang bernama “siwaluh jabu” waluh adalah delapan. Kenapa si waluh jabu, karena dalam rumah adat ini terdapat 8 ruang yang ditempati oleh 8 keluarga. ada yang unik dari rumah adat ini yaitu dapur mereka saling berhadapan, sayang sekali kemarin aku tidak sempat main ke rumah adat jadi tidak bisa menunjukkan fotonya. Berbicara tentang dapur ada keunikan dari orang karo. Apakah itu?? ada yang tau?? Ya… orang karo memiliki yang namanya para. Akan kuberi gambaran tentang dapur ini, seperti masyarakat zaman dahulu pada umumnya orang karo juga masak dengan kayu bakar, nah diatas dapur kayu bakar ini dibuatlah para (tempat penyimpanan makanan) bentuknya seperti pada foto dibawah. Jadi semua makanan disimpan di atas para. Oh ya salah satu makanan favorit orang karo adalah tape dan kabarnya tape akan lebih manis bila di fermentasi diatas para.

RUMAH ADAT KARO
Rumah adat karo adalah sebuah karya arsitektur yang begitu menakjubkan menurutku. Siapakah gerangan perencana bangunan ini, atau siapakah kontraktor dibalik bangunan ini? Oh sepertinya tidak ada yang namanya kontraktor, konsultan pengawas atau konsultan perencana yang ada hanyalah kerjasama dan otak yang begitu brililiant pada zaman itu. tahukah kamu tidak ada satu pakupun yang tertancap di rumah adat ini semunaya hanya hasil kaitan sana-sini. Sungguh menakjubbkan. Kalau kamu mampir ke daerah kelahiranku ini berkujunglah ke Desa Dokan atau Desa Lingga disana masih terdapat rumah adat beserta dengan penghuninya.
miniatur rumah adat
RAGA DAYANG-DAYANG
Emmmm seperti yang aku bilang sebelumnya aku masih harus banyak belajar tentang budaya karo karena aku adalah korban zaman yang membawaku hanyut jauh dari budaya. Raga dayang-dayang aku tidak tahu persis benda ini untuk apa. Yang kuingat dari benda ini adalah tempat persembahan (kolekte) jika hari natal tiba. Dan di beberapa upacara adat aku juga melihat benda ini digunakan. Suatu hari nanti mungkin akan ku katakana benda ini untuk apa bila aku sudah menemukannya.


JAMBE
Jambe mungkin kamu pernah melihatnya karena sebenarnya buah ini tidak hanya ada di tanah karo. Buah ini banyak dijumpai di tempat lain mungkin dengan bermacam-macam nama tapi pernahkah kamu meilhat labu seberat ini 51 kg? amazing!!


Masih banyak benda-benda lain di lantai 1 ini yang mungkin hanya orang karo yang tahu itu apa. Berkunjunglah ke museum Djamin Ginting bila kau ke tanah karo simalem. Museum adalah dimana sejarah dicatat selain memberikan pengetahuan museum juga akan membuatmu memahami keadaan zaman dulu mengajarkan kesederhanaan menurut saya.
Setelah melihat-lihat di lantai 1 kami keluar, masih di lokasi yang sama kami berhenti sejenak di kantin Djamin ginting. Oh ya jika mau membeli oleh-oleh juga bisa di tempat ini. Hari sudah semakin sore dan kami pun memutuskan untuk pulang ke Kabanjahe. Sesampainya di Kabanjahe kami ke pajak “pasar” dan makan kwetiau goreng disana. aku suka sekali kwetiau goreng kabanjahe sangat berbeda dengan kwetiau di Jawa. aku tak peduli siapa yang menjual dan dimana tempat dijualnya jika itu adalah kwetiau aku pasti suka. Biar bagaimanapun terimakasih Bapak Letjen Djamin Ginting karna menjadi bagian dari kemerdekaan Indonesia.

MEJUAH-JUAH MAN BANTA KRINA




Kamis, 21 Januari 2016


HANYA DIA TEMPATKU KEMBALI

begitu bangun pagi hari ini saya sudah mulai sibuk untuk mempersiapkan diri mengikuti tes Indonesia mengajar besok. saya mulai searching-searching hal-hal yang menjadi bahan ujian saya besok. Seketika saya mendengar suara dari hati saya sendiri "apa yang kamu lakukan?!, kemana saja kamu selama ini?!" ada perasaan bersalah dalam diri saya. beberapa hari belakangan ini saya memang tidak intens berkomunikasi dengan Pencipta, belakangan ini saya merasa saya bisa mengusahakan segala hal tanpa campur tangan-Nya. sungguh bersyukur hari ini Dia begitu keras mengetuk pintu hati saya dan memanggil saya kembali. saat itu juga saya menghentikan segala aktivitas, saya mandi dan langsung memngabil posisi untu saat teduh.

Renungan hari ini saya ambil dari http://www.warungsatekamu.org/2016/01/datang-kembali/ begitu membaca judulnya saja saya begitu tertohok. Sungguh mengucap syukur karena Pencipta yang saya panggil dengan Bapa masih mau menerima saya. saya mendapati diri bagaikan anak yang selalu saja membuat khawatir Bapanya. Merasa bisa melakukan segala hal sendiri, merasa paling benar, suka membrontak seperti anak remaja yang beranjak dewasa.

Allah tak hanya diam di dalam rumah-Nya menunggu kita. Dia terus-terusan mengamati, menanti di depan rumah, dan memanggil kita untuk kembali. —James Banks
Prndapat James Banks ini membuat saya semakin terharu dan melihat betapa Allah mencintai kita, betapa Allah mengasihi kita. Tak ada kasih yang dapat melebihi kasihNya di dunia maupun di alam semesta ini. Oh.... sungguh maafkanlah anakMu yang tenggar tengkuk ini ya Bapa. 

Hari ini aku mau menyerahkan segala harapan hanya di dalam Bapa.

Jumat, 08 Januari 2016

Malam ini pukul 11.31, menulis pertama untuk tahun 2016. Bersyukur untuk 7 hari yang sudah bisa dilalui di tahun 2016, mengucap syukur karena Tuhan masih mengizinkan diri ini memasuki tahun ini. banyak hal yang begitu harus disyukuri walaupun hidup ini tidak selalu berjalan dengan lancar.

akan ada krikil-krikil tajam, batu besar bahkan pasir-pasir yang harus dilewati di tahun 2016 ini. nikmati proses dan tetaplah meminta pertolongan sang pencipta untuk melewati semua rintangan.


SEMANGAT 2016!!!!