Kambangan Desa Diatas Awan
Dari Sabang
sampai Merauke berjejar pulau-pulau
Sambung
menyambung menjadi satu itulah Indonesia
Indonesia
tanah airku, aku berjanji padamu
Menjungjung
tanah airku, tanah airku Indonesia
Suara anak kelas 5 SD Negri desa Kambangan Kec. Bruno
Purwerejo siang itu menggetarkan hatiku. Lagu ini sangat familiar di telingaku
bahkan lagu ini sudah kuhafal sejak aku duduk di kelas 3SD tapi bagaimana
mungkin aku baru merasakan makna
sesungguhnya dari lagu ini di umurku yang sudah 23? Kejadian ini merupakan kesan
pertamaku saat bertemu dengan adik-adik di kelas 5 SD Negri Kambangan.
Seperti biasanya minggu siang itu kota Yogyakarta
begitu panas, ku langkahkan kakiku di salah satu kafe untuk mengikuti tahap interview salah satu komunitas positif
yang sedang eksis saat ini. Tak lama menunggu namaku dipanggil untuk interview, kurang lebih 15-20 menit
waktu itu. Berselang sekitar 1 minggu menunggu, sungguh mengucap syukur namaku
lolos. Aku akan mengikuti salah satu program dari komunitas ini yaitu “teaching
and trevelling”. Bagiku pada saat itu bahkan sampai saat ini menjadi volunteer dalam dunia pendidikan adalah
seperti candu, apinya belum padam.
Di suatu hari jumat malam kami meninggalkan kota yang
dikenal dengan sebutan kota pelajar itu menuju suatu tempat yang aku sendiri
belum tahu keberadaanya. Desa Kambangan Kec.Bruno Purwerejo mereka
mengatakannya, bahkan ada yang berpendapat desa ini lebih mendekati daerah Wonosobo.
Entahlah baik Purwerejo maupun Wonosobo bukan sesuatu yang asing lagi di
telingaku tapi yang jelas aku belum pernah ke kedua tempat itu.
Perjalanan kami tempuh sekitar empat belas jam,
meleset sembilan jam dari dugaan, hal ini dikarenakan salah satu mobil
rombongan kami mengalami masalah sehingga kami harus menginap di perjalanan.
Jam lima pagi waktu subuh kami melanjutkan perjalan menuju desa Kambangan, tak
kusangka ternyata perjalan sangat jauh dan penuh dengan tantangan. Sedikit
cerita mobil yang saya naiki saat itu dua kali mengalami kecelakaan. Sekedar
saran jika suatu saat kamu ke desa Kambangan dari Purwerejo gunakanlah mobil off road itu akan membuat perjalanan
lebih aman. Jalan menuju Kambangan
bukan hanya berkelok tapi sangat menanjak, seolah-olah mobil-mobil itu kami
paksa untuk mendaki gunung, tebing dan jurang adalah pemandangan yang
memanjakan mata selama perjalanan. Jalanan beraspal tidak akan kau temui di
tempat ini kawan, jalan berbatulah yang akan menemani perjalanmu ke desa itu.
Masih teringat jelas oleh memoriku pagi itu aku dan
beberapa rombongan sampai di balai desa yang akan menjadi base camp kami selama dua hari. Kami segera berganti pakaian tanpa
mandi karena kami sudah terlambat. Kami bejalan dari balai desa menuju Sekolah
Dasar Negri Kambangan, ohhh… ternyata dari balai desa menuju sekolah itu
lumayan jauh juga. Sepertinya malam itu telah turun hujan karena di beberapa
titik jalan ada genangan air, salah mengambil langkah akan membuat kakimu
bersepatukan lumpur, hal itu menjadi lucu jika kuingat saat ini. Sekitar lima
belas sampai dua puluh menit aku melihat bentuk bangunan yang sangat familiar, “itu
adalah sekolahnya dalam hatiku”. Belum juga kami melangkahkan kaki di sekolah
itu, anak-anak itu sudah keluar dan meneriakkan sesuatu sehingga semua yang
masih di dalam kelas berhambur keluar. Mereka sangat girang melihat kami bahkan
ada yang sampai loncat-loncat. Aku penasaran apa yang mereka pikirkan ketika
pertama kali melihat kami. Apakah kami sosok hero yang mereka tunggu, ataukah mereka menganggap kami artis? Aku
rasa bukan itu. Tapi yang jelas mereka menggetarkan hatiku, mengaduk-aduk
emosiku, hampir membuat air mataku menetes seketika itu juga. Si anak-anak
polos dari SDN Kambangan membuatku meleleh di pandangan pertama.
Bangunan sekolah sangat sederhana, ada enam kelas
mulai dari kelas satu sampai kelas enam, satu ruang guru, dua keran beserta
dengan “wastafel” nya yaitu di depan ruangan kelas enam dan kelas emapat,
lapangan yang cukup untuk menampung upacara dan satu tiang tempat berkibarnya
sang Merah Putih. Suasana itu cukup membuat anak-anak SDN Kambangan merasa
bahagia berada di sekolah. Sangat sederhana, kesederhaan yang sempurna.
Kami memulai kebahagiaan hari itu dengan games di lapangan sederhana sekolah,
kami membentuk lingkaran agar dapat melihat satu dengan yang lainnya, kami
bernyanyi, kami menari, kami tertawa kami sangat bersukacita. Begitulah awal
perjumpaanku dengan anak-anak polos itu. Sebagian dari mereka cepat sekali
mengakrabkan diri, menambahkan sukacitaku. Antusias mereka adalah semangat
kami. Setelah bermain games anak-anak
masuk di kelas masing-masing dan kakak-kakak volunteer pun ikut masuk sesuai dengan kelasnya. Aku beserta dengan
ke-dua temanku kebagian di kelas 5 SD.
Kami membuka pertemuan di kelas lima menyapa mereka dengan
penuh semangat dan mereka merespon sapaan itu lebih semangat lagi. Suasana yang
sangat hangat. Karena kami belum mengenal mereka maka sebelum masuk dalam topik
pelajaran hari itu kami saling memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Masing-masing dari anak-anak itu memperkenalkan diri mereka dan sesekali di isi
dengan godaan dari anak-anak lain sekali lagi ini adalah suasana yang sangat
hangat.
Topik yang kami angkat hari itu adalah “Keanekaragaman
Indonesia”. Anak- anak, kami bagi menjadi lima kelompok. Kumulai kelas itu dengan
menggambar lima pulau besar Indonesia di papan tulis, Sumatra – Jawa –
Kalimantan –Sulawesi – Irianjaya beserta dengan pulau-pulau kecil lainnya.
Masing-masing dari kelompok itu kami berikan kertas dan pensil warna untuk
menggambar pulau-pulau besar tersebut. Masing-masing kelompok akan menggambar
satu pulau. Sebelum menggambar kami menyanyikan lagu “Dari sabang sampai
Merauke” ciptaan R Suharjo. Suara anak kelas 5 SD Negri Kambangan Kec. Bruno
Purwerejo siang itu menggetarkan hatiku. Lagu ini sangat familiar di telingaku
bahkan lagu ini kuhafal sejak aku duduk di kelas 3SD tapi hari itu aku
merasakan sesuatu yang berbeda, sepertinya aku memahami isi hati R Suharjo
ketika menciptakan lagu ini.
Mereka menggambar dengan sangat antusias bahkan sangat
terlihat dengan jelas arti dari gotong royong yang menjadi selogan bangsa ini
dalam diri anak-anak itu, tanpa ada command
dalam kelompok langsung ada yang menggambar, ada yang menawarkan diri untuk
mewarnai, ada yang menempel nama-nama ibu kota provinsi dan ada yang menempel
pakaian adat setiap provinsi. Aku berkeliling melihat hasil karya anak bangsa
ini sekaligus untuk mengakrabkan diri, saat aku berkeliling, beberapa kali aku
bertanya kepada mereka tahukah kalian ibu kota Sumatra Utara? ayo coba siapa
yang bisa menunjukkan sabang dalam peta? Ada yang tau ibukota Sulawesi Utara?
Dan jawaban-jawaban mereka membuatku sadar bahwa kami belum mengenal bangsa
kami dengan utuh. Bahkan ketika kami bertanya ibukota Jawa Tengah pun ada
beberapa yang belum mengetahuinya. Desa Kambangan, sebegitu terisolasinya kah
dirimu sehingga sulit bagi informasi mendekapmu?? Kami mencoba untuk
memperkenalkan keanekaragaman Indonesia kepada mereka, adik-adik kami di Desa
Kambangan dan dengan harapan tinggi mereka akan mengenal negri ini melalui
goresan tangan mereka. Setelah semua kelompok selesai menggambar, kami
menempelkan sebuah karton di belakang kelas mereka dan kami meminta adik-adik
itu menempel sendiri hasil karya mereka di karton itu. Lima Pulau besar Indonesia
sudah menempel dengan gagah di ruang kelas mereka beserta dengan nama-nama
provinsi serta pakaian adat setiap provinsi itu. Karton yang telah diisi dengan gambar
pulau-pulau besar di Indonesia itu menjadi saksi bahwa anak-anak kelas 5 SDN
Kambangan memiliki kerinduan untuk mengenal lebih jauh lagi mengenai negrinya
INDONESIA.
Setelah sesi mengajar selesai, kami kembali keluar
menuju lapangan karena masih ada kegiatan yang akan di lakukan yaitu penyuluhan
cara menggosok gigi bersama dengan rekan-rekan volunteer para calon dokter gigi. Aku pribadi sangat senang melihat
suasana saat itu, adik-adik diajari bagaimana cara menggosok gigi, apa saja
yang menyebabkan sakit gigi dan informasi-informasi lainnya. Aktivitas kami
sudah selesai hari itu di sekolah, kami menutupnya dengan membagikan donasi
kepada mereka adik-adik baruku.
Siang itu menunjukkan pukul dua siang, awan sudah mulai
turun menutupi desa, jika Simeru punya negri diatas awan maka Kambangan pun
layak disebut dengan desa diatas awan. Semua daerah desa sudah berkabut siang
itu ditambah musim hujan yang sedang berlangsung. Sebelumnya kami telah memberi
pengumuman kepada anak-anak di sekolah bahwa siang itu kami akan mengajak
mereka bermain di lapangan, tapi apa daya hari itu turun hujan. Namun di luar
dugaan hampir semua siswa datang meskipun hujan melanda, sungguh luar biasa.
Diantara mereka ada yang sudah mulai basah, ada yang berpayung, ada yang masih
mengenakan seragam olahraga, bahkan ada yang masih menggunakan seragam pramuka.
Karena hari itu hujan maka kami mengubah planning awal menjadi priksa gigi
satu-persatu siswa itu.
Rintik-rintik hujan, remang-remang ruang balai desa menjadi
saksi dinginnya siang menjelang sore itu tapi anak-anak SDN Kambangan memilki
antusias yang tinggi. SEMANGAT suatu hal yang kupelajari dari mereka,
keSEDERHANAnaan terlukis dengan tajam di mata mereka, mereka bukan anak-anak
yang pusing dengan games di handphone, sepatu atau pun baju baru mungkin
jarang terlintas di pikiran mereka, sungguh mereka anak-anak yang sederhana. Sikap
MANDIRI terlihat jelas dari sikapnya, mereka bukannya tidak mau bermanja kepada
orangtua tapi keadaan memaksa mereka untuk mandiri, keadaan memaksa mereka
untuk bertanggung jawab akan suatu pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada
mereka setelah pulang sekolah yaitu membantu orangtua mereka bahkan untuk
membantu di ladang.
Malam itu dingin semakin menusuk tulangku, aku dan
semua rekan-rekan volunteer duduk
melingkar, mengambil posisi senyaman mungkin untuk menceritakan apa saja yang
kami dapatkan sepanjang hari itu. Masing-masing dari kami menceritakan berbagai
pelajaran hidup yang kami dapatkan hari itu. Ada yang menangis, ada yang
mengatakan menjadi volunteer seperti
candu buatnya, ada yang bersyukur karena memiliki kesempatan mengajar di depan
kelas, ada yang bersukacita karena dapat berbagi. Banyak emosi yang bercampur
aduk malam itu tapi satu hal yang ku ketahui dari semua teman-temanku volunteer
bahwa masih banyak di negri ini yang peduli, masih banyak anak muda di negri
ini yang mencintai Indonesia.
Aku juga baru mengetahui dari sharing salah seorang teman malam itu, bahwa anak-anak yang sekolah
ke SDN Kambangan bukan hanya dari desa Kambangan saja tapi juga dari beberapa
desa sekitarnya dan beberapa anak itu membutuhkan waktu kurang lebih satu jam
menuju sekolah. Aku mencoba membayangkan jika mereka masuk sekolah jam tujuh
tiga puluh maka setidak-tidaknya mereka harus berangkat dari rumah jam enam
tiga puluh, it means mereka bangun
jam enam pagi. Melakukan perjalan selama satu jam melewati ladang-ladang yang
sepi bukan suatu hal yang mudah pasti ada rintangan-rintangan yang anak-anak
ini hadapi, apalagi di musim hujan, jalan berlumpur akan menjadi sahabat yang
mengiring perjalan mereka ke sekolah.
Saat aku menulis tulisan ini kucoba mengingat kembali
wajah adik-adiku itu, aku bertanya-tanya dalam hati akan menjadi apa kelak
adik-adikku itu? Masih terekam di dalam memori otakku , di suatu hari sabtu di
bulan Mei di ruang kelas lima aku menanyakan cita-cita mereka, cita-cita
anak-anak itu sungguh amat baik. Mereka punya mimpi, mereka punya cita-cita,
mereka punya harapan, tapi kembali ku bertanya dalam hati mungkinkah cita-cita
itu akan mereka pejuangkan? Aku takut keadaan akan mengubah cita-cita, aku
takut kemiskinan akan menghilangkan semangat mereka untuk bercita-cita, aku
takut harapan itu akan sirna.
Desa Kambangan Kec.Bruno, Purwerejo terimakasih untuk
pengalaman, untuk pelajaran yang kau berikan. Mungkin kau tidak terlihat tapi
kau bermakna, kau tetaplah bagian dari wajah Indonesia ini. Aku punya cita-cita
suatu saat semua mimpi yang telah dituliskan oleh siswa-siswi SDN Kambangan
akan menjadi kenyataan, aku punya angan-angan semua anak-anak SDN Kambangan
akan berjuang untuk cita-citanya sehingga dapat memajukan Desa Kambangan baik
dari segi sarana, prasarana dan informasi. Dan aku berharap pemerintah boleh
melirik, melihat dan bertidak melakukan sesuatu untuk desa ini.
Kambangan desa
diatas awan ; kau bermakna, kau bernilai, kau adalah bagian dari wajah
Indoesia.




